Daftar Negara yang Keluar dari OPEC dalam Tujuh Tahun Terakhir

Sabtu, 02 Mei 2026 - 16:43 WIB
Media Al Jazeera melaporkan pemerintah Abu Dhabi beralasan ingin lebih fokus pada "kepentingan nasional". Rumor keluarnya UEA sebenarnya telah beredar selama bertahun-tahun, terutama terkait tuntutan negara itu untuk memperoleh kuota produksi yang lebih besar.

Sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah, UEA memproduksi rata-rata 3,3 juta barel minyak per hari. Namun kapasitas produksinya diperkirakan mencapai 4,5 juta hingga 5 juta barel per hari, menjadikan negara itu bersama Arab Saudi sebagai pemilik cadangan kapasitas produksi terbesar di OPEC.

Posisi tersebut membuat UEA berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi global. Namun, perang di kawasan Timur Tengah, termasuk kerusakan fasilitas energi dan penutupan Selat Hormuz, menghambat kemampuan negara itu dalam merespons guncangan pasar.

Selain persoalan kuota produksi, kebijakan luar negeri UEA juga dinilai tidak selalu sejalan dengan anggota OPEC lainnya. Kedekatan Abu Dhabi dengan Amerika Serikat dan Israel melalui Abraham Accords 2020 memunculkan ketidaknyamanan di kalangan sejumlah anggota, termasuk Iran.

Iran sebagai salah satu negara pendiri OPEC beberapa kali mengkritik negara-negara Teluk, termasuk UEA, yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Ketegangan tersebut memperburuk dinamika internal organisasi di tengah tekanan geopolitik kawasan.

OPEC dibentuk pada Konferensi Baghdad pada September 1960 oleh Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Organisasi yang bermarkas di Wina, Austria, itu bertujuan menyatukan kebijakan perminyakan anggota untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan energi dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!