Menutup Kesenjangan Komunikasi Talenta Indonesia untuk Genjot Kinerja Bisnis di Era AI
Jum'at, 10 Juli 2026 - 14:45 WIB
loading...
ELSA Business melalui ELSA Enterprise AI Learning Agent, platform yang menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang dipersonalisasi sesuai dengan peran, kebutuhan, dan konteks pekerjaan setiap karyawan. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap dunia kerja secara fundamental. Tantangannya kini tidak lagi sekadar mengadopsi teknologi, tetapi memastikan organisasi memiliki talenta yang siap memanfaatkannya secara optimal. Berdasarkan Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn, sebanyak 92% pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam pekerjaannya sehari-hari.
Namun,Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan bahwa hanya 23% organisasi di Indonesia yang masuk kategori “Pacesetters” atau siap sepenuhnya memanfaatkan potensi AI. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi AI tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia.
Baca Juga: SDM Perhotelan Perlu Perkuat Kemampuan Bahasa Inggris Berbasis AI
Seiring meningkatnya adopsi AI, kebutuhan terhadap keterampilan manusia juga semakin tinggi. World Economic Forum memproyeksikan analytical thinking, resilience, creative thinking, technology literacy, serta AI and big data sebagai kompetensi utama hingga 2030. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam lingkungan kerja yang semakin global, kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris menjadi semakin penting.
Namun kemampuan bahasa Inggris masih menjadi tantangan bagi banyak tenaga kerja Indonesia yang masih berada dalam kategori low proficiency menurut EF English Proficiency Index 2025. Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga organisasi.
Studi global IDC (2025) menunjukkan bahwa 78% perusahaan mengalami kendala dalam interaksi dengan klien, mitra bisnis, dan ekspansi pasar akibat hambatan bahasa. Sementara 74% menyatakan hambatan komunikasi turut mempengaruhi kolaborasi internal dan pengambilan keputusan.
Namun,Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan bahwa hanya 23% organisasi di Indonesia yang masuk kategori “Pacesetters” atau siap sepenuhnya memanfaatkan potensi AI. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi AI tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia.
Baca Juga: SDM Perhotelan Perlu Perkuat Kemampuan Bahasa Inggris Berbasis AI
Seiring meningkatnya adopsi AI, kebutuhan terhadap keterampilan manusia juga semakin tinggi. World Economic Forum memproyeksikan analytical thinking, resilience, creative thinking, technology literacy, serta AI and big data sebagai kompetensi utama hingga 2030. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam lingkungan kerja yang semakin global, kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris menjadi semakin penting.
Namun kemampuan bahasa Inggris masih menjadi tantangan bagi banyak tenaga kerja Indonesia yang masih berada dalam kategori low proficiency menurut EF English Proficiency Index 2025. Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga organisasi.
Studi global IDC (2025) menunjukkan bahwa 78% perusahaan mengalami kendala dalam interaksi dengan klien, mitra bisnis, dan ekspansi pasar akibat hambatan bahasa. Sementara 74% menyatakan hambatan komunikasi turut mempengaruhi kolaborasi internal dan pengambilan keputusan.
Lihat Juga :