Mengapa Nelayan Butuh Dukungan Asuransi, Begini Penjelasannya
Selasa, 05 Mei 2026 - 22:56 WIB
Menurutnya, Kampung Nelayan Merah Putih akan sangat baik untuk mendukung aktivitas dan kehidupan para nelayan. Apalagi kalau ditambah dengan mengasuransikan para nelayan.
Sejalan dengan itu, Pengamat Asuransi sekaligus Anggota Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) Wahju Rohmanti juga menegaskan, bahwa petani dan nelayan adalah profesi yang sepaket. Namun dia juga menyadari bahwa risiko dan juga perlindungan yang diberikan berbeda.
Menurutnya, secara umum coverage nelayan lebih ke individu, sehingga lebih luas dan beragam. Sementara Asuransi AUTP pada petani saat ini coveragenya lebih ke kerugian finansial akibat gagal panen yang diakibatkan oleh faktor alam, misal karena banjir, serangan hama, dan masih banyak lagi.
"Sebaliknya asuransi nelayan cover risiko ke nelayan kecil yang mengalami kecelakaan kerja dari santunan biaya pengobatan/medis akibat kecelakaan kerja, santunan cacat tetap hingga santunan kematian," tegas dia.
Oleh karena itu, menurutnya untuk nelayan premi biasanya lebih tinggi dari premi asuransi petani. Namun dia juga menjelaskan hal itu bukan jadi hambatan untuk mendukung nelayan, apalagi dengan adanya salah satu program unggulan pemerintah dalam ketahanan pangan.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan membangun 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga 2029. Ditambah lagi, Indonesia memiliki Badan Usaha Milik Negara di bidang asuransi untuk mendukung program pemerintah.
Oleh karena itu, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) memandang inisiatif pembangunan kampung nelayan sebagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir, sekaligus membuka ruang bagi penguatan literasi dan inklusi asuransi di sektor maritim.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana mengatakan siap mendukung program pemerintah, apalagi yang berkaitan dengan perlindungan dan asuransi. Hanya saja, Gema mengingatkan bagi perusahaan, peluang untuk masuk ke sektor tersebut tentu ada.
Baca Juga: Jasindo Berkomitmen Perkuat Strategi Anti Fraud
Sejalan dengan itu, Pengamat Asuransi sekaligus Anggota Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) Wahju Rohmanti juga menegaskan, bahwa petani dan nelayan adalah profesi yang sepaket. Namun dia juga menyadari bahwa risiko dan juga perlindungan yang diberikan berbeda.
Menurutnya, secara umum coverage nelayan lebih ke individu, sehingga lebih luas dan beragam. Sementara Asuransi AUTP pada petani saat ini coveragenya lebih ke kerugian finansial akibat gagal panen yang diakibatkan oleh faktor alam, misal karena banjir, serangan hama, dan masih banyak lagi.
"Sebaliknya asuransi nelayan cover risiko ke nelayan kecil yang mengalami kecelakaan kerja dari santunan biaya pengobatan/medis akibat kecelakaan kerja, santunan cacat tetap hingga santunan kematian," tegas dia.
Oleh karena itu, menurutnya untuk nelayan premi biasanya lebih tinggi dari premi asuransi petani. Namun dia juga menjelaskan hal itu bukan jadi hambatan untuk mendukung nelayan, apalagi dengan adanya salah satu program unggulan pemerintah dalam ketahanan pangan.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan membangun 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga 2029. Ditambah lagi, Indonesia memiliki Badan Usaha Milik Negara di bidang asuransi untuk mendukung program pemerintah.
Oleh karena itu, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) memandang inisiatif pembangunan kampung nelayan sebagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir, sekaligus membuka ruang bagi penguatan literasi dan inklusi asuransi di sektor maritim.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana mengatakan siap mendukung program pemerintah, apalagi yang berkaitan dengan perlindungan dan asuransi. Hanya saja, Gema mengingatkan bagi perusahaan, peluang untuk masuk ke sektor tersebut tentu ada.
Baca Juga: Jasindo Berkomitmen Perkuat Strategi Anti Fraud
Lihat Juga :