Pertama Kali Sejak Perang Teluk, Ekspor Minyak Kuwait Menyentuh Angka Nol
Rabu, 06 Mei 2026 - 22:19 WIB
Titik Nadir di Selat Hormuz
Lumpuhnya ekspor ini bukan tanpa alasan. Selat Hormuz, yang merupakan jalur nadi utama mengalirkan seperlima pasokan minyak dan LNG dunia, kini praktis menjadi jalur mati akibat blokade total. Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah mengubah jalur dagang paling sibuk di dunia itu menjadi zona perang yang tak bisa dilewati kapal tanker.Kuwait Petroleum Corporation (KPC) secara resmi telah menyatakan status Force Majeure sejak 17 April lalu. Langkah darurat ini diambil setelah lalu lintas kapal tanker terhenti total, memutus akses Kuwait ke pasar utama mereka di Asia, termasuk China, India, dan Korea Selatan.
Ekonomi di Ambang Kehancuran?
Bagi Kuwait, situasi ini adalah mimpi buruk finansial mengingat minyak menyumbang sekitar 50% dari PDB Kuwait. Fakta pahit yang dihadapi negara Teluk tersebut adalah sekitar 90% pendapatan pemerintah berasal dari ekspor minyak.Baca Juga: AS Arahkan Kapal Melintasi Selat Hormuz Lewat Perairan Oman
Dari kapasitas normal 2,7 juta barel per hari (bpd), kini produksi minyak Kuwait turun drastis menjadi hanya 1,2 juta bpd per awal Mei 2026. Meskipun Kuwait masih terus memproduksi minyak untuk kebutuhan domestik dan penyimpanan, ketiadaan ekspor berarti keran uang negara praktis terhenti.
Lihat Juga :