Rupiah Kian Babak Belur, Dolar AS Kini Tembus Rp17.529
Selasa, 12 Mei 2026 - 17:07 WIB
Pada saat yang sama, hanya beberapa hari sebelum pertemuan Trump yang direncanakan dengan Presiden China Xi Jinping, Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan, termasuk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke China.
Secara terpisah, Wall Street Journal melaporkan pada hari Senin bahwa UEA melakukan serangan militer terhadap Iran, termasuk serangan pada awal April yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan, Iran. UEA belum secara terbuka mengakui serangan tersebut, menurut laporan itu.
Pasar kini menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam nanti, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan moneter Fed. CPI utama diperkirakan akan naik 0,6 persen MoM pada bulan April, melambat dari kenaikan 0,9 persen pada bulan Maret.
Secara tahunan, inflasi diperkirakan akan meningkat menjadi 3,7 persen YoY dari 3,3 persen sebelumnya. Sementara CPI inti diproyeksikan menunjukkan peningkatan 2,7 persen YoY pada bulan April, dibandingkan dengan 2,6 persen sebelumnya.
Dari sentimen domestik, pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I tumbuh sebesar 5,61 persen. Angka tersebut merupakan realisasi terbesar sejak lima tahun terakhir, bahkan jadi yang tertinggi di antara negara G20. Namun, angka pertumbuhan PDB itu harus selalu dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (year to year/yoy). Kuartal I-2025 adalah salah satu realisasi terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang hanya sebesar 4,87 persen.
Angka 5,61 persen terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basisi. “Selain itu, jika diteliti lebih jauh, pertumbuhan kuartal I 2026 ini tak bisa dikatakan sehat. Ada banyak variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai,” kata Ibrahim.
Secara terpisah, Wall Street Journal melaporkan pada hari Senin bahwa UEA melakukan serangan militer terhadap Iran, termasuk serangan pada awal April yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan, Iran. UEA belum secara terbuka mengakui serangan tersebut, menurut laporan itu.
Pasar kini menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam nanti, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan moneter Fed. CPI utama diperkirakan akan naik 0,6 persen MoM pada bulan April, melambat dari kenaikan 0,9 persen pada bulan Maret.
Secara tahunan, inflasi diperkirakan akan meningkat menjadi 3,7 persen YoY dari 3,3 persen sebelumnya. Sementara CPI inti diproyeksikan menunjukkan peningkatan 2,7 persen YoY pada bulan April, dibandingkan dengan 2,6 persen sebelumnya.
Dari sentimen domestik, pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I tumbuh sebesar 5,61 persen. Angka tersebut merupakan realisasi terbesar sejak lima tahun terakhir, bahkan jadi yang tertinggi di antara negara G20. Namun, angka pertumbuhan PDB itu harus selalu dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (year to year/yoy). Kuartal I-2025 adalah salah satu realisasi terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang hanya sebesar 4,87 persen.
Angka 5,61 persen terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basisi. “Selain itu, jika diteliti lebih jauh, pertumbuhan kuartal I 2026 ini tak bisa dikatakan sehat. Ada banyak variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai,” kata Ibrahim.
Lihat Juga :