Kehadiran Wakil Ketua DPR di BEI Dinilai Jadi Sinyal Dukungan Negara di Tengah Pelemahan IHSG

Rabu, 20 Mei 2026 - 19:43 WIB
“Kita sama-sama tahu bahwa rupiah sedang terdepresiasi dan menembus angka psikologis baru di level Rp17.700 per dollar pada perdagangan 19 Mei 2026. Belum lagi, pada hari ini, isu terkait ekspor satu pintu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) menambah sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia,” tambah Ani.

Ani menilai justru dalam situasi seperti ini, kehadiran Sufmi Dasco Ahmad bersama Danantara perlu diapresiasi karena menunjukkan bahwa negara tidak membiarkan pasar bergerak sendiri.

“Kehadiran pimpinan DPR, OJK, dan Danantara di BEI memberi pesan bahwa pemerintah dan otoritas tidak abai terhadap tekanan pasar. Dalam masa seperti ini, kehadiran simbolik tetap penting karena pasar bukan hanya bergerak oleh data, tetapi juga oleh persepsi terhadap koordinasi, kepemimpinan, dan keseriusan institusi,” kata Ani.

GREAT Institute juga mencatat bahwa pernyataan Sufmi Dasco Ahmad selepas kunjungan memperlihatkan arah yang konstruktif. Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan keyakinan bahwa bursa Indonesia ke depan akan semakin kuat, menyinggung pertumbuhan investor ritel, fundamental yang tetap baik, serta upaya penyempurnaan regulasi agar investor domestik merasa lebih nyaman.

Bagi GREAT Institute, pesan seperti ini penting untuk menjaga kepercayaan ketika pasar sedang diguncang sentimen jangka pendek. Dalam pandangan GREAT Institute, agenda kebijakan ke depan harus bergerak dalam dua lapis. Dalam jangka pendek, otoritas perlu menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar secara aktif agar tekanan risk-off tidak berkembang menjadi spiral kepercayaan yang lebih mahal.

Dalam jangka menengah, pemerintah, OJK, dan BEI perlu mempercepat reformasi yang sudah mulai berjalan pasca-peringatan MSCI dan FTSE Russell, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan, penyesuaian aturan free float, serta penguatan kredibilitas pasar agar Indonesia tidak terus dibaca sebagai pasar dengan risiko investability yang tinggi. OJK sendiri menargetkan sekitar tiga perempat emiten bisa memenuhi aturan free float 15 persen pada tahun pertama implementasi reformasi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!