Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global

Kamis, 04 Juni 2026 - 12:48 WIB
Sementara itu, Vice Chair for International Affairs Kadin Indonesia, Bernardino Vega menilai bahwa standar keberlanjutan kini semakin memengaruhi keputusan investasi dan akses pasar bagi industri mineral global. Ia menekankan, semakin banyak dana investasi yang menerapkan kriteria ESG menjadikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan sebagai salah satu prasyarat utama dalam pengambilan keputusan investasi.

Respons pasar terhadap hal ini terlihat jelas. Investasi di sektor pengolahan mineral Indonesia meningkat 208% antara 2019 hingga 2022, dari USD3,56 miliar menjadi USD10,96 miliar. Menurutnya peran Kadin Indonesia adalah memastikan pelaku usaha nasional memahami dengan jelas standar dan ekspektasi yang terus berkembang tersebut, serta membantu mereka beradaptasi lebih awal.

"Karena pada akhirnya, perusahaan yang mampu menunjukkan praktik pertambangan yang baik serta kinerja ESG yang kredibel dan dapat diverifikasi adalah perusahaan yang akan memperoleh investasi jangka panjang dan akses yang lebih strategis ke pasar global,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi dan kunjungan lapangan, peserta juga menyoroti pentingnya tata kelola lingkungan, efisiensi energi, perlindungan biodiversitas, serta keterlibatan masyarakat sebagai elemen penting dalam pengembangan industri mineral kritis.

Presiden Direktur PT IWIP, Kevin He menyampaikan, Investasi yang berkembang di kawasan ini tidak hanya berkontribusi terhadap agenda industrialisasi Indonesia, tetapi juga mendukung upaya global dalam membangun sistem energi yang lebih bersih, mempercepat adopsi kendaraan listrik, dan memperkuat rantai pasok yang lebih tangguh.

"Namun kami juga menyadari bahwa pertumbuhan industri membawa tanggung jawab yang besar. Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Ekspansi industri harus menciptakan peluang dan manfaat yang nyata bagi masyarakat lokal. Dan keberhasilan jangka panjang hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan seluruh mitra terkait,” ujar Kevin.

Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan industri nasional, perkembangan ekosistem hilirisasi di IWIP juga memberikan dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja di Maluku Utara. Saat ini sekitar 85% tenaga kerja di kawasan IWIP berasal dari Maluku Utara, mencerminkan semakin besarnya keterlibatan masyarakat lokal dalam rantai nilai industri yang berkembang di wilayah tersebut.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta juga mengikuti penanaman mangrove yang menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Melalui dialog yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan nasional dan internasional, Maluku Utara semakin menunjukkan perannya bukan hanya sebagai pusat produksi nikel dunia, tetapi juga sebagai wilayah yang tengah membangun referensi baru bagi praktik hilirisasi yang berkelanjutan, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!