IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia

Minggu, 07 Juni 2026 - 20:14 WIB
"MSCI memang bukan regulator Indonesia. Namun keputusan lembaga indeks global mampu memengaruhi likuiditas, biaya modal, dan persepsi risiko pasar Indonesia secara langsung. Ini menunjukkan bahwa pasar kita masih sangat sensitif terhadap keputusan aktor keuangan global," ujarnya.

Kusfiardi juga menyoroti perbedaan tingkat tekanan yang terjadi antara pasar saham dan nilai tukar. Sejak awal tahun hingga awal Juni 2026, rupiah melemah sekitar 10%, sedangkan IHSG terkoreksi hampir 40% dari level tertingginya.

Menurut dia kesenjangan tersebut menunjukkan investor tidak hanya mengurangi eksposur terhadap rupiah, tetapi juga melakukan penilaian ulang terhadap aset dan risiko Indonesia secara keseluruhan. "Jika rupiah melemah 10% tetapi pasar saham jatuh hampir empat kali lebih dalam, maka ada pesan yang lebih besar daripada sekadar penguatan dolar AS. Pasar sedang melakukan penilaian ulang terhadap prospek dan risiko Indonesia," katanya.

Di tengah arus keluar modal asing, investor domestik dinilai berhasil menjadi penyangga pasar. Namun, kemampuan tersebut masih memiliki keterbatasan dan belum dapat diartikan sebagai tanda bahwa struktur pasar keuangan nasional sudah kuat.

Ia menilai tekanan yang sedang berlangsung justru menunjukkan besarnya beban yang harus diserap oleh pelaku domestik. Karena itu, perhatian tidak boleh hanya tertuju pada stabilitas likuiditas, tetapi juga pada aspek yang lebih mendasar, yakni kredibilitas pasar.

Menurut Kusfiardi, pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menempuh berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valuta asing, dukungan terhadap pasar obligasi, relaksasi buyback saham, hingga penyesuaian kebijakan perdagangan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!