Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun

Senin, 15 Juni 2026 - 14:28 WIB
Berdasarkan penggunaannya, ULN pemerintah antara lain dimanfaatkan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,1% dari total ULN pemerintah, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib 20,5%, jasa pendidikan 16,2%, konstruksi 11,5%, serta transportasi dan pergudangan 8,5%. BI juga mencatat utang pemerintah hampir seluruhnya merupakan utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,99%.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.658 Triliun di Kuartal I-2026

Sementara itu, ULN swasta masih mengalami kontraksi. Pada April 2026, posisi ULN swasta tercatat sebesar USD193,2 miliar atau terkontraksi 0,7% secara tahunan, meski membaik dibandingkan kontraksi 1,4% pada bulan sebelumnya.

Kontraksi tersebut terutama dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan yang mencatat penyusutan 5,0% secara tahunan. Adapun sektor dengan porsi ULN swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,6% dari total ULN swasta.

BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal itu tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,6% pada April 2026, serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 84,5% dari total utang luar negeri nasional.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!