Rupiah Ambruk Dekati Rp18.000, Dolar AS Masih Terlalu Perkasa

Rabu, 01 Juli 2026 - 16:30 WIB
Dari sentimen domestik, pasar merespons negatif terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2026 defisit USD1,61 miliar. Defisit ini merupakan defisit pertama sejak 6 tahun lalu.

Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar USD24,81 miliar, sedangkan ekspor RI USD23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Defisit pada Mei 2026 disebabkan pada komoditas migas sebesar defisit USD3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas hasil minyak dan minyak mentah. Adapun, dari catatan BPS, impor memang meningkat hingga 22,16% jika dibandingkan Mei 2025.

BPS mencatat impor migas sebesar USD4,51 miliar meningkat 70,78% secara tahunan atau year on year/yoy. Impor nonmigas USD20,30 miliar atau naik 14,69%. Impor tahunan didorong impor non migas dengan andil 12,95%.

Selain itu inflasi tahunan pada Juni 2026 berada di level 3,34% (YoY). Kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, hingga transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut.

Realisasi inflasi ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada kondisi Juni 2025 menjadi 111,89 pada kondisi Juni 2026 yang menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir tetapi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.950-Rp17.810 per dolar AS.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!