BI Blak-blakan soal Kombinasi Pemicu Kejatuhan Rupiah yang Sempat Rp18 Ribu per Dolar AS
Selasa, 07 Juli 2026 - 19:04 WIB
irektur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, bahwa gejolak yang dialami mata uang Garuda erat kaitannya dengan arah kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Fed. Foto/Dok
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) angkat bicara tentang dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang sempat menembus level psikologis baru yakni Rp18.000 per dolar AS. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, bahwa gejolak yang dialami mata uang Garuda erat kaitannya dengan arah kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Fed.
Sebagai catatan, dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni lalu, The Fed memutuskan menahan suku bunga di level 3,5% hingga 3,75%. Namun kepanikan pasar dipicu oleh munculnya sinyal kuat dari sejumlah pejabat The Fed yang mengindikasikan bahwa suku bunga acuan masih berpotensi naik ke depan.
Kondisi tersebut memicu penguatan indeks dolar AS (DXY) secara drastis hingga mematahkan rekor tertinggi dalam satu tahun terakhir. Jika pada Januari 2026 indeks DXY masih nangkring di level 95, maka pada akhir Juni posisinya melonjak ke level 101.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah, Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS
Sebagai catatan, dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni lalu, The Fed memutuskan menahan suku bunga di level 3,5% hingga 3,75%. Namun kepanikan pasar dipicu oleh munculnya sinyal kuat dari sejumlah pejabat The Fed yang mengindikasikan bahwa suku bunga acuan masih berpotensi naik ke depan.
Kondisi tersebut memicu penguatan indeks dolar AS (DXY) secara drastis hingga mematahkan rekor tertinggi dalam satu tahun terakhir. Jika pada Januari 2026 indeks DXY masih nangkring di level 95, maka pada akhir Juni posisinya melonjak ke level 101.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah, Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS
Lihat Juga :