BI Blak-blakan soal Kombinasi Pemicu Kejatuhan Rupiah yang Sempat Rp18 Ribu per Dolar AS

Selasa, 07 Juli 2026 - 19:04 WIB


"Jadi, kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap US dollar," kata Denny saat ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa (7/7/2026).

Adapun pada penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026), nilai uang rupiah berhasil berbalik arah dan ditutup menguat tipis 0,08% ke posisi Rp17.950 per dolar AS. Meski demikian, secara pergerakan harian (intraday), mata uang AS tersebut sempat melemah hingga menyentuh level Rp18.009 pada sekitar pukul 14.12 WIB.

Menghadapi tekanan eksternal tersebut, Denny menegaskan bahwa BI akan mengambil langkah preventif dan tidak tinggal diam. Bank sentral siap mengerahkan seluruh instrumen bauran kebijakan demi membentengi stabilitas rupiah dengan bersiaga mengawal pasar selama 24 jam penuh, baik pada jaringan pasar luar negeri maupun domestik.

Langkah yang diambil BI mencakup operasi intervensi pada tiga lini pasar keuangan strategis sekaligus menjalin komunikasi dua arah secara intensif dengan para pelaku pasar modal. Denny menilai, lewat intervensi terukur ini, tingkat kejatuhan rupiah masih terpantau lebih baik dan terukur jika dikomparasikan dengan negara-negara berkembang lainnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!