Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Jum'at, 10 Juli 2026 - 07:41 WIB
Presiden AS Donald Trump mengamini hal tersebut, ketika dalam konferensi persnya, Ia meremehkan potensi terjadinya krisis energi jilid dua. "Konflik ini akan selesai dengan sangat cepat. Kita memiliki banjir pasokan minyak (oil glut) saat ini karena banyaknya kapal yang berhasil lolos melintasi selat dalam beberapa minggu kemarin," tegas Trump santai.
Ekonom komoditas dari Capital Economics, Hamad Hussain mengingatkan, bahwa sanksi ekonomi Barat kini sudah kehilangan taringnya di hadapan kekuatan ekonomi baru Asia. "China kemungkinan besar akan tetap menjadi pembeli setia minyak Iran, tidak peduli apa pun status sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat," ulas Hussain tajam.
Kendati demikian, para ahli tetap memperingatkan investor untuk bersiap menghadapi volatilitas harga dalam beberapa bulan ke depan. Jika pertempuran baru ini terus meluas dan berlangsung berbulan-bulan tanpa henti, barulah cadangan minyak dunia akan menipis dan harga minyak berpotensi merangkak naik kembali menuju USD100 per barel.
Apakah ketahanan ekonomi global saat ini membuktikan bahwa ketergantungan dunia terhadap minyak Timur Tengah, benar-benar sudah mulai berakhir?
Sanksi AS Jadi Mandul di Tangan China
Langkah nekat Trump yang mencabut izin penjualan minyak bebas sanksi milik Iran, hingga ancamannya untuk memblokade total dan merebut Pulau Kharg (pusat ekspor minyak Iran), juga dinilai tidak akan memicu kepanikan pasokan.Ekonom komoditas dari Capital Economics, Hamad Hussain mengingatkan, bahwa sanksi ekonomi Barat kini sudah kehilangan taringnya di hadapan kekuatan ekonomi baru Asia. "China kemungkinan besar akan tetap menjadi pembeli setia minyak Iran, tidak peduli apa pun status sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat," ulas Hussain tajam.
Kendati demikian, para ahli tetap memperingatkan investor untuk bersiap menghadapi volatilitas harga dalam beberapa bulan ke depan. Jika pertempuran baru ini terus meluas dan berlangsung berbulan-bulan tanpa henti, barulah cadangan minyak dunia akan menipis dan harga minyak berpotensi merangkak naik kembali menuju USD100 per barel.
Apakah ketahanan ekonomi global saat ini membuktikan bahwa ketergantungan dunia terhadap minyak Timur Tengah, benar-benar sudah mulai berakhir?
(akr)
Lihat Juga :