Dulu Diperebutkan hingga Rp1,6 Juta per Barel, Kini Minyak Dunia Malah Mencari Pembeli

Jum'at, 10 Juli 2026 - 14:59 WIB
Raksasa perbankan JPMorgan Chase justru merilis peringatan darurat yang bikin merinding: dunia kini sedang kebanjiran minyak, tapi tidak ada negara yang mau membelinya!. Foto/Dok
JAKARTA - Harga minyak mentah dunia terbang tinggi menyentuh USD107 per barel (sekitar Rp1,65 juta) pada Mei lalu akibat pecahnya perang di Timur Tengah? Saat itu kapal-kapal tanker raksasa harus memutar ribuan mil, dan kilang minyak di Asia saling sikut berebut pasokan yang lolos dari Selat Hormuz.

Namun hari ini situasi berbalik 180 derajat, ketika harga minyak mentah jenis Brent sempat dilaporkan ambruk ke kisaran USD68 per barel. Namun raksasa perbankan JPMorgan Chase justru merilis peringatan darurat yang bikin merinding: dunia kini sedang kebanjiran minyak, tapi tidak ada negara yang mau membelinya!



60 Juta Barel Minyak Mendadak Tumpah ke Pasar Global

Kepala Riset Komoditas JPMorgan, Natasha Kaneva mengirimkan nota darurat kepada para investor global yang menjabarkan fenomena 'banjir minyak' (oil glut) ini. "Pasar saat ini menghadapi risiko banjir pasokan sementara akibat minyak-minyak yang sempat terjebak perang, kini mendadak masuk kembali secara bersamaan ke dalam sistem ekonomi global," tulis Kaneva.

"Ironisnya, pasokan masif yang keluar dari Selat Hormuz ini sekarang tidak punya tempat tujuan selain China. Masalahnya China menolak membeli," jelasnya.

Baca Juga: Kesepakatan Damai Batal! AS Gempur Balik Iran, Harga Minyak Ngamuk Lagi

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!