Studi Kearney: Masa Depan Ekonomi Bergantung Kemampuan Adaptasi dengan AI

Senin, 20 Juli 2026 - 10:30 WIB
Memanfaatkan AI untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, peningkatan AI menghadirkan tantangan yang lebih mendasar. Secara historis, banyak negara berkembang mengandalkan tenaga kerja yang melimpah dan manufaktur berorientasi ekspor sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi .

Namun, seiring AI dan otomatisasi mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur maupun jasa, besarnya jumlah penduduk semata tidak lagi bisa dijadikan jaminan daya saing jangka panjang. Peluang justru terletak pada kemampuan untuk mengidentifikasi area di mana nilai dapat diciptakan dalam ekonomi AI, baik melalui layanan digital, operasional yang didukung AI, infrastruktur data, manufaktur berteknologi tinggi, maupun posisi-posisi strategis lainnya dalam rantai nilai AI.

Selain itu, Indonesia perlu mulai menguasai dua pilar strategis baru: energi bersih yang dapat ditingkatkan skalanya (scalable clean energy) dan literasi AI yang merata. Transisi ini membuka peluang lompatan pengetahuan yang cukup signifikan. Dengan memastikan ketersediaan energi yang efisien serta membekali tenaga kerja dengan pemahaman dan keterampilan AI, Indonesia dapat mengubah skala demografinya menjadi mesin penggerak inovasi yang kuat dan sumber daya saing global yang berkelanjutan. Baca juga: Dulu Dijajah Belanda, Kini Digerus Impor? Mantan Menkeu Ungkap Jurus Jitu Cetak Ekonomi Tumbuh 8%

Presiden Direktur Kearney Indonesia Shirley Santoso mengatakan, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berpartisipasi dalam ekonomi AI. Namun keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada lebih dari sekadar adopsi teknologi.

Seiring AI menjadi pendorong utama produktivitas dan penciptaan nilai, negara-negara akan semakin bersaing berdasarkan kualitas sumber daya manusia, kekuatan ekosistem inovasi, infrastruktur digital, serta kemampuan dalam mengubah kapabilitas teknologi menjadi hasil ekonomi yang nyata. ”Sangat penting bagi organisasi yang menghadapi transformasi digital untuk dapat menjembatani kesenjangan antara adopsi teknologi dan kesiapan tenaga kerjanya,” ujarnya.

Ia menambahkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, penyedia teknologi, investor, dan dunia usaha akan menjadi faktor penentu bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai nilai AI. Termasuk mengubah berbagai peluang teknologi yang muncul menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!