Industri Ritel Makin Tertekan

Selasa, 29 September 2020 - 06:35 WIB
Ketua DPD APPBI DKI Jakarta Ellen Hidayat sebelumnya menyebutkan, trafik pengunjung masa PSBB transisi pada pertengahan Juni lalu mencapai 35–45%. Meski sepi, kata dia, para pelaku usaha dan tenant berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga seluruh pihak agar bisa bekerja.

“Apabila mal ditutup, tentu banyak pihak yang akan kena getahnya, seperti UKM, (petugas) parkir, pedagang kecil, hingga pemasok barang ke pusat perbelanjaan,” katanya.

Dia menambahkan, saat ini baik pengelola pusat belanja dan juga para tenant bekerja sama untuk bisa melewati keadaan yang berat ini. “Setidaknya kami masih bisa membuka lapangan kerja bagi para karyawan yang sangat membutuhkan penghasilan," kata Ellen. (Baca juga: Jalan Terjal Anwar Ibrahim Jadi PM Malaysia)

Ekonom Bank Permata Josua Pardede sebelumnya mengatakan, adanya ancaman resesi yang semakin mendekati kenyataan diperlukan langkah-langkah cepat dari pemerintah, khususnya dalam rangka mendongkrak kembali konsumsi masyarakat.

"Ini yang saya pikir menjadi komponen terbesar sehingga aktivitas dari sisi produksi akan terungkit kalau sisi permintaan terdorong dengan stimulus-stimulus yang diberikan pemerintah," ujar Josua dalam sebuah diskusi Market Review IDX Channel, Jumat (25/9/2020).

Menurutnya, selain data pertumbuhan ekonomi, ada beberapa indikator lain yang memengaruhi resesi atau tidaknya suatu negara, antara lain tingkat pekerjaan, pendapatan domestik bruto, penjualan eceran grosir, dan produksi industri. (Lihat videonya: Sepeda Kayu dari Limbah Kayu Pinus)

Josua menuturkan, jika dilihat dari perkembangan arus pemutusan hubungan kerja (PHK) atau perusahaan yang merumahkan karyawannya sejak April lalu, ada potensi bahwa tingkat pengangguran cenderung akan meningkat. "Kita perkirakan tingkat rasio (PHK) sekitar 9%-an," kata dia. (Ferdi Rantung/Suparjo Ramalan/Fadel Prayoga)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!