Sentrafarm Jadi Solusi Teknologi Pertanian Masa Depan
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 23:00 WIB
Inovasi teknologi pertanian terus dikembangkan. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Kalangan milenial turut berkontribusi membangun ketahanan pangan di masa depan. Salah satu inovasi teknologi ialah Sentrafarm. Co-founder Sentrafarm, Mush'ab Nursantio mengatakan, Sentrafarm merupakan agritech startup, di mana fokus pada comercial vertical farming dan beberapa inovasi teknologi di agriculture.
Tidak hanya itu, Sentrafarm juga berfokus di bisnis food & beverages dengan konsep menyerupai fast food restaurant di mana pihaknya mengenalkan produk-produm teknologi pangan ke masyarakat. "Sentrafarm ini latar belakang pendiriannya ingin meng-address masalah global food system. Secara general kita melihat masalah demand and supply, di mana ada penambahan jumlah penduduk dan 80 persennya di tahun 2050 akan tinggal di urban area atau perkotaan," ujar Mush'ab dalam webinar Food Heroes Day, Sabtu (31/10/2020).
Baca Juga: Bangun Food Estate di Sumut, Jokowi: Fokus Tanam Kentang & Bawang
Dengan meningkatnya sisi demand dan supply, Mush'ab menyampaikan bahwa pihaknya melihat ada tantangan besar ke depan seperti perubahan iklim, degradasi lahan dimana hampir 40 persen lahan subur di dunia tidak produktif lagi. Selain itu penggunaan resources seperti air dimana 70 persen fresh water global digunakan untuk pertanian
Tidak hanya itu, Sentrafarm juga berfokus di bisnis food & beverages dengan konsep menyerupai fast food restaurant di mana pihaknya mengenalkan produk-produm teknologi pangan ke masyarakat. "Sentrafarm ini latar belakang pendiriannya ingin meng-address masalah global food system. Secara general kita melihat masalah demand and supply, di mana ada penambahan jumlah penduduk dan 80 persennya di tahun 2050 akan tinggal di urban area atau perkotaan," ujar Mush'ab dalam webinar Food Heroes Day, Sabtu (31/10/2020).
Baca Juga: Bangun Food Estate di Sumut, Jokowi: Fokus Tanam Kentang & Bawang
Dengan meningkatnya sisi demand dan supply, Mush'ab menyampaikan bahwa pihaknya melihat ada tantangan besar ke depan seperti perubahan iklim, degradasi lahan dimana hampir 40 persen lahan subur di dunia tidak produktif lagi. Selain itu penggunaan resources seperti air dimana 70 persen fresh water global digunakan untuk pertanian
Lihat Juga :