Dirut Cantik Ini Beberkan Strategi Energi dari 'Tahan' Menjadi 'Sangat Tahan'
Kamis, 24 Desember 2020 - 16:40 WIB
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Foto/SINDOnews
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) terus meningkatkan perannya dalam menggerakkan perekonomian nasional . Salah satu peran yang bisa dimainkan adalah mengembangkan strategi untuk memenuhi energi nasional secara berkelanjutan dalam rangka mengurangi impor minyak dan gas.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan grand strategy energy nasional dikembangkan dari rencana pemerintah untuk mewujudkan ketahanan energi nasional yang telah ditetapkan dari PP No. 79 Tahun 2014 mengenai kebijakan energi nasional. Saat ini, posisi Indonesia masih berada di score 6.57 atau status 'Tahan'. ( Baca juga:Wow! Ratusan Ribu Kendaraan Mulai Tinggalkan Jakarta )
“Ini menjadi tantangan agar kita tingkatkan lagi posisinya menjadi 'Sangat Tahan'. Inilah yang mendasari pemerintah untuk menyusun grand strategy energy nasional,” ujar Nicke dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (24/12/2020).
Lebih lanjut Nicke menguraikan, dengan visi untuk mewujudkan ketahanan energi nasional, maka tantangannya adalah meningkatkan produksi migas, menurunkan impor, baik minyak maupun LPG, serta membangun infrastruktur untuk migas dan electricity. Dari ketiga hal tersebut, pemerintah menyusun 11 program yang sebagian besar bertujuan menurunkan impor dan memaksimalkan dengan mengolah sumber daya alam yang banyak dimiliki oleh Indonesia.
Sebagai BUMN di sektor Energi, Pertamina mendapat tanggung jawab menjalankan program tersebut dengan berupaya meningkatkan produksi crude 1 juta bopd dan akuisisi lapangan minyak luar negeri untuk kebutuhan kilang. Amanah ini harus dijalankan, saat ini kontribusi Pertamina sebesar 40%, tahun depan akan mencapai 60%, sehingga ini akan sangat dominan.
“Dengan peran sebagai BUMN untuk mendorong driver pertumbuhan energi nasional, maka investasi Pertamina ke depan tentu akan disesuaikan dengan grand strategy energi pemerintah ke depan. Kalau kita bicara tentang hulu energi, 60% investasi akan dilakukan di hulu energi,”imbuh Nicke.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan grand strategy energy nasional dikembangkan dari rencana pemerintah untuk mewujudkan ketahanan energi nasional yang telah ditetapkan dari PP No. 79 Tahun 2014 mengenai kebijakan energi nasional. Saat ini, posisi Indonesia masih berada di score 6.57 atau status 'Tahan'. ( Baca juga:Wow! Ratusan Ribu Kendaraan Mulai Tinggalkan Jakarta )
“Ini menjadi tantangan agar kita tingkatkan lagi posisinya menjadi 'Sangat Tahan'. Inilah yang mendasari pemerintah untuk menyusun grand strategy energy nasional,” ujar Nicke dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (24/12/2020).
Lebih lanjut Nicke menguraikan, dengan visi untuk mewujudkan ketahanan energi nasional, maka tantangannya adalah meningkatkan produksi migas, menurunkan impor, baik minyak maupun LPG, serta membangun infrastruktur untuk migas dan electricity. Dari ketiga hal tersebut, pemerintah menyusun 11 program yang sebagian besar bertujuan menurunkan impor dan memaksimalkan dengan mengolah sumber daya alam yang banyak dimiliki oleh Indonesia.
Sebagai BUMN di sektor Energi, Pertamina mendapat tanggung jawab menjalankan program tersebut dengan berupaya meningkatkan produksi crude 1 juta bopd dan akuisisi lapangan minyak luar negeri untuk kebutuhan kilang. Amanah ini harus dijalankan, saat ini kontribusi Pertamina sebesar 40%, tahun depan akan mencapai 60%, sehingga ini akan sangat dominan.
“Dengan peran sebagai BUMN untuk mendorong driver pertumbuhan energi nasional, maka investasi Pertamina ke depan tentu akan disesuaikan dengan grand strategy energi pemerintah ke depan. Kalau kita bicara tentang hulu energi, 60% investasi akan dilakukan di hulu energi,”imbuh Nicke.
Lihat Juga :