Awal Baik di 2021, IHSG Makin Mantap Lari ke 6.800

Jum'at, 08 Januari 2021 - 17:02 WIB
Salah satunya rotasi kelas aset yang relatif positif ke negara berkembang atas kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS yang baru. Biden dipercaya akan menormalisasi pengelolaan ekonomi yang lebih fokus pada penguatan infrastruktur, menekan ketimpangan kemakmuran dan kelestarian lingkungan hidup.

Biden diharapkan juga memperbaiki hubungan internasional terutama dengan para sekutu tradisional untuk lebih efektif menghadapi pertarungan hegemoni terhadap China. "Intinya kemenangan Biden diyakini mengurangi daya tarik bursa saham negara maju yang selama 10 tahun terakhir menikmati outperformance terhadap negara berkembang," ujar Budi di Jakarta, Jumat (8/1/2021).

Dia juga melihat investor akan terlebih dahulu masuk ke pasar obligasi (SBN). Hal ini dilandasi oleh yield obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun yang menarik di mata investor, yakni 5,89%. Sementara, obligasi AS tenor 10 tahun hanya memiliki yield 0,93%. Sepanjang tahun 2020, indeks SBN Abtrindo mengukir total cuan 15,1% sementara IHSG minus 5,1%. Budi menilai, kenaikan aset SBN ini menjadi prasyarat untuk keberlanjutan rally IHSG tahun 2021, yang sudah ditopang oleh penguatan daya beli, terlihat dari indikator pertumbuhan uang beredar M1.

Baca Juga: Ada Sentimen Positif, IHSG Diprediksi Bergerak Menggeliat

Sementara, pertumbuhan M1 di Amerika Serikat 53,2% adalah angka tertinggi selama 60 tahun terakhir. Meski ada kecemasan peningkatan inflasi, risiko inflasi ini sementara ditahan oleh proses pengurangan utang (deleveraging) masyarakat di negara maju dan penguatan digitalisasi ekonomi. "Dengan sejumlah indikator tersebut, kami menyarankan agar investor bisa memanfaatkan proses reflasi aset finansial dengan mengurangi alokasi kas ke pasar obligasi maupun pasar saham," ungkap Budi.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!