Meneropong Peluang Industri Properti di Masa Pemulihan, DP 0% Jadi Angin Segar
Rabu, 24 Februari 2021 - 23:46 WIB
Berdasarkan data Tim 99 Group, tren suplai dan permintaan properti selama tahun 2020 mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Dari segi suplai, data Tim 99 Group mencatat tren bulanan yang cukup stabil pada kuartal satu dan dua, dengan rata-rata listing aktif berada di angka 8%.
Pertumbuhan suplai listing tertinggi terjadi di bulan Juli sebesar 8.75%. Penurunan suplai listing yang cukup drastis terjadi dari bulan Agustus yang menukik ke 5.67%, hingga yang terendah pada Desember pada angka 3.82%.
Sementara dari segi permintaan per bulan, periode kuartal awal antara Januari hingga April mencatat penurunan cukup signifikan dari 10 % hingga hampir menyentuh angka 5%. Penurunan tersebut terjadi saat dimulainya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap awal.
Permintaan pasar kemudian meningkat menjadi 7.96% pada Mei hingga berhasil menembus 11.25% pada Juni. Peningkatan ini menjadi respons atas adaptasi yang dilakukan sektor properti dan pelonggaran PSBB.
Angka permintaan sempat kembali mengalami penurunan ke 6.57% pada September. Walaupun demikian, hingga Desember, permintaan properti berhasil stabil di angka 8.46%, sehingga tahun 2020 dapat ditutup dengan rapor positif.
Kebijakan DP 0% Bank Indonesia Bawa Angin Segar untuk Sektor Properti
Penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps ke 3,50% yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), menjadi angin segar bagi sektor properti Tanah Air. Kebijakan tersebut turut didukung dengan pelonggaran berbagai jenis kredit, termasuk pembebasan uang muka atau DP 0 persen untuk pembelian properti.
Relaksasi rasio Loan to Value/Finance to Value (LTV/FTV) kini dapat dimaksimalkan hingga 100% untuk berbagai jenis properti, baik itu rumah tapak, apartemen, maupun rumah toko/rumah kantor. Walaupun demikian, kebijakan baru ini hanya berlaku untuk bank yang memiliki rasio non-performing loan (NPL) di bawah 5%.
Pertumbuhan suplai listing tertinggi terjadi di bulan Juli sebesar 8.75%. Penurunan suplai listing yang cukup drastis terjadi dari bulan Agustus yang menukik ke 5.67%, hingga yang terendah pada Desember pada angka 3.82%.
Sementara dari segi permintaan per bulan, periode kuartal awal antara Januari hingga April mencatat penurunan cukup signifikan dari 10 % hingga hampir menyentuh angka 5%. Penurunan tersebut terjadi saat dimulainya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap awal.
Permintaan pasar kemudian meningkat menjadi 7.96% pada Mei hingga berhasil menembus 11.25% pada Juni. Peningkatan ini menjadi respons atas adaptasi yang dilakukan sektor properti dan pelonggaran PSBB.
Angka permintaan sempat kembali mengalami penurunan ke 6.57% pada September. Walaupun demikian, hingga Desember, permintaan properti berhasil stabil di angka 8.46%, sehingga tahun 2020 dapat ditutup dengan rapor positif.
Kebijakan DP 0% Bank Indonesia Bawa Angin Segar untuk Sektor Properti
Penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps ke 3,50% yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), menjadi angin segar bagi sektor properti Tanah Air. Kebijakan tersebut turut didukung dengan pelonggaran berbagai jenis kredit, termasuk pembebasan uang muka atau DP 0 persen untuk pembelian properti.
Relaksasi rasio Loan to Value/Finance to Value (LTV/FTV) kini dapat dimaksimalkan hingga 100% untuk berbagai jenis properti, baik itu rumah tapak, apartemen, maupun rumah toko/rumah kantor. Walaupun demikian, kebijakan baru ini hanya berlaku untuk bank yang memiliki rasio non-performing loan (NPL) di bawah 5%.
Lihat Juga :