Pilih Mana? Uang Digital ala BI, atau Bitcoin yang Penuh Risiko
Selasa, 02 Maret 2021 - 23:05 WIB
“Ini banyak sekali spekulan dan investor yang berinvestasi di bitcoin. Keuntungan yang besar banget itu membuat banyak orang melihat crypto sebagai investasi yang menguntungkan. Meskipun harganya volatile dan memiliki risiko tinggi. Itu menjadi sisi negatif crypto,” ujarnya saat dihubungi SINDONews, Senin (1/3/2021).
Senada dengan Nailul, pengamat ekonomi Budi Frensidy membenarkan peminat cryptocurrency meningkat karena cerita dan postingan dari tokoh-tokoh top dunia macam Elon Musk. “(Cerita-cerita) Inilah currency masa depan dan paling mudah mendapatkan keuntungan. Padahal di balik kenaikan return yang besar juga ada risiko yang sangat besar,” ucapnya.
Budi memaparkan risiko yang harus ditanggung orang yang akan berinvestasi di crypto. Pertama, cryptocurrency tidak memiliki penjamin dan fundamental yang jelas. Sangat tergantung pada supply dan demand. Beberapa miliarder dunia, seperti Warren Buffet dan Bill Gates telah memperingatkan risiko berinvestasi di cryptocurrency.
Investor harus siap menerima kenyataan yang tidak diharapkan. “Saya melihat ini mainan spekulan dan siap-siap pada saat mengambil posisi ketinggian, yang untung adalah mereka yang sudah membeli harga rendah. Yang rugi adalah yang masuk belakangan,” tuturnya.
Kini, BI mengembuskan angin segar dengan menyatakan akan menerbitkan uang digital. Dengan dikeluarkan BI, tentunya akan ada pengawasan dan jaminan hukum. Budi melihat penerbitan uang digital ini untuk memperoleh efisiensi pada sistem pembayaran domestik. Dia juga menangkap tujuan lain BI adalah mitigasi praktik perbankan bayangan (shadow banking).
“Ini berbeda crypto dengan uang digital yang ditawarkan sebelumnya. Kenapa? Ini ada penjamin. Ini ada yang menjamin nilai dan berdaulatlah. Di Indonesia, uang yang boleh ditransaksikan adalah rupiah. BI menawarkan ini agar orang jangan bertransaksi di Crypto yang tidak legalize dan dijamin,” jelasnya.
Senada dengan Nailul, pengamat ekonomi Budi Frensidy membenarkan peminat cryptocurrency meningkat karena cerita dan postingan dari tokoh-tokoh top dunia macam Elon Musk. “(Cerita-cerita) Inilah currency masa depan dan paling mudah mendapatkan keuntungan. Padahal di balik kenaikan return yang besar juga ada risiko yang sangat besar,” ucapnya.
Budi memaparkan risiko yang harus ditanggung orang yang akan berinvestasi di crypto. Pertama, cryptocurrency tidak memiliki penjamin dan fundamental yang jelas. Sangat tergantung pada supply dan demand. Beberapa miliarder dunia, seperti Warren Buffet dan Bill Gates telah memperingatkan risiko berinvestasi di cryptocurrency.
Investor harus siap menerima kenyataan yang tidak diharapkan. “Saya melihat ini mainan spekulan dan siap-siap pada saat mengambil posisi ketinggian, yang untung adalah mereka yang sudah membeli harga rendah. Yang rugi adalah yang masuk belakangan,” tuturnya.
Kini, BI mengembuskan angin segar dengan menyatakan akan menerbitkan uang digital. Dengan dikeluarkan BI, tentunya akan ada pengawasan dan jaminan hukum. Budi melihat penerbitan uang digital ini untuk memperoleh efisiensi pada sistem pembayaran domestik. Dia juga menangkap tujuan lain BI adalah mitigasi praktik perbankan bayangan (shadow banking).
“Ini berbeda crypto dengan uang digital yang ditawarkan sebelumnya. Kenapa? Ini ada penjamin. Ini ada yang menjamin nilai dan berdaulatlah. Di Indonesia, uang yang boleh ditransaksikan adalah rupiah. BI menawarkan ini agar orang jangan bertransaksi di Crypto yang tidak legalize dan dijamin,” jelasnya.
Lihat Juga :