Utang Tembus Rp6.164 T, Seorang Anggota DPR Tiup Peluit

Minggu, 18 April 2021 - 13:00 WIB
"Berdasarkan data Februari 2021, DGDP ratio sebesar 39,7%, sedangkan data mengenai DSR dan DER masing-masing sebesar 27,86% dan 215,4% pada IV-2020," ujar Kamrussamad di Jakarta, Minggu (18/4/2021).

Kata dia, data-data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia mengalami over borrowing ketika dilihat dari indikator DSR dan DER. Sedangkan dengan indikator DGDP, nilainya hampir melebihi batas aman sehingga diperlukan manajemen utang dengan hati-hati dan terstruktur.

"Pemerintah dapat menjalankan strategi dalam melakukan manajemen utang seperti mendapatkan sumber pendanaan dengan biaya yang murah, meminimalkan risiko terkait portofolio utang, dan mendukung pengembangan pasar," katanya. ( Baca juga:Minyak Jelantah Mau Masuk Program Biodiesel? Ntar Dulu...! )

Dia menambahkan utang merupakan konsekuensi belanja negara yang ekspansif. Dengan adanya pandemi maka pemerintah meningkatkan pengeluarannya untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional, baik dari segi sosial, ekonomi maupun kesehatan.

"Selain itu, dengan kondisi yang dialami saat ini, pemerintah harus memanfaatkan momentum ini untuk dapat kembali bersaing dan menghindari opportunity loss melalui strategi-strategi kebijakan yang akan dilaksanakan," bebernya.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!