Kilas Balik Lebaran 2021 dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Senin, 24 Mei 2021 - 05:43 WIB
Data BPS juga mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 minus 5,3% sedangkan konsumsi rumah tangga minus hingga 5,5%. Namun, menurut beberapa pengamat dampak larangan mudik 2021 tak akan lebih parah dibandingkan tahun lalu.

Dikarenakan pemerintah tetap mengizinkan pembukaan sejumlah tempat wisata dan pusat perbelanjaan sehingga masyarakat tetap bisa membelanjakan uangnya selama libur Lebaran.

Pengamat juga menilai keputusan pemerintah mewajibkan pengusaha membayar tunjangan hari raya (THR) secara penuh maksimal H-7 Hari Raya Idul Fitri sudah tepat. Hal itu untuk memberikan kompensasi dampak negatif dari larangan mudik untuk memutar perekonomian di berbagai daerah Indonesia.

“Meskipun kebijakan larangan mudik ini berimbas secara faktual terhadap ekonomi nasional tetapi hal itu merupakan langkah terbaik yang telah disiapkan pemerintah. Berkaca pada melonjaknya kasus baru COVID-19 di India dan beberapa negara lain tentu membuka mata kita untuk jauh lebih berhati-hati terhadap gelombang baru pandemi yang secara jangka panjang akan memberatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani.

Dampak positif dari larangan mudik tahun ini diprediksi akan mendorong naiknya tingkat konsumsi masyarakat di wilayah aglomerasi. Mengutip pernyataan dari Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, penarikan dana tunai di Jabodetabek selama periode Lebaran ini mencapai Rp34.8 triliun atau naik 61% dibanding jumlah penarikan dana tunai pada Lebaran tahun lalu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!