RI Menuju Smart Water Management, Schneider Electric Tekankan Digitalisasi Air Minum

Jum'at, 27 Agustus 2021 - 20:40 WIB
Schneider Electric menekankan digitalisasi yang disertai pemanfaatan energi bersih dalam menjawab tantangan sektor air minum. Foto/Ist
JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan dukungan berbagai pihak terus menjalankan proses transformasi menuju Smart Water Management di Indonesia.

Salah satu dukungan datang dari Schneider Electric yang ikut terlibat dalam berbagai proyek pengembangan dan revitalisasi sistem pengelolaan air di Indonesia. Antara lain, PDAM Surya Sembada Surabaya, proyek SPAM Semarang Barat, Palyja, Traya Tirta, dan Moya Indonesia.

Dalam bincang media Schneider Electric bertema “Roadmap Indonesia Menuju Smart Water Management”, raksasa teknologi itu menekankan digitalisasi yang disertai dengan pemanfaatan energi bersih merupakan cara menjawab tantangan sektor air minum dalam meningkatkan ketahanan operasional, menurunkan emisi karbon, dan menjaga keberlanjutan ketersediaan air bersih.

Business Vice President Industrial Automation Schneider Electric Indonesia dan Timor Leste, Hedi Santoso mengatakan, kontribusi terbesar inefisiensi di sektor air adalah konsumsi listrik dan pemborosan air akibat kebocoran pipa yang tidak terdeteksi.

"Sekitar 4% konsumsi listrik secara global berasal dari sektor air dan sekitar 25-35 persen air hilang pada saat operasi pemompaan dan distribusi di dalam pipa, sebelum akhirnya sampai di tempat konsumen," ujarnya, Jumat (27/8/2021).





Menurut dia, dibutuhkan transparansi dan ketertelusuran aset air di seluruh jaringan operasional dan distribusi yang dapat meningkatkan visibilitas untuk pengambilan keputusan yang tepat berbasis data real-time. "Hal ini dimungkinkan dengan pemanfaatan sensor, artificial intelligence, digital-twin dan analisa prediktif dengan platform terbuka,” urainya.

Kasubdit Perencanaan Teknis Direktorat Air Minum Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR Dades Prinandes mengungkapkan, saat ini hampir sebagian besar kota di Indonesia menghadapi tiga krisis defisiensi, yaitu infrastruktur yang sudah tua dan kinerja yang memburuk, sumber air yang terbatas, serta kapasitas sumber daya manusia yang terbatas.

Hal ini yang menyebabkan seringkali pengelolaan operasional difokuskan pada masalah yang paling kritis dan mengabaikan operasional dan pemeliharaan yang dapat berdampak di jangka panjang. Antara lain kehilangan air yang semakin besar, kehilangan finansial, resiko kesehatan dan kepuasan konsumen.
Halaman :
tulis komentar anda
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More