Gaikindo Beberkan Tantangan dalam Pengembangan Mobil Listrik

Jum'at, 15 Oktober 2021 - 20:59 WIB
Transisi dari mobil konvensional ke mobil listrik di dalam negeri menghadapi sejumlah tantangan yang tak ringan. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia ( Gaikindo ) menyebutkan ada sejumlah tantangan dalam transisi dari mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) ke mobil berbaterai listrik ( battery electric vehicle/BEV ).

Ketua V Gaikindo Shodiq Wicaksono mengatakan, tantangan pertama adalah mahalnya harga mobil listrik. Harga BEV saat ini masih tergolong mahal, yakni Rp600 jutaan, jauh di atas daya beli konsumen otomotif Tanah Air yang masih berada di bawah Rp300 jutaan. Itu berarti ada selisih Rp300 juta yang harus dipersempit untuk mendongkrak penjualan BEV.



Baca Juga: Roadmap Pembelian Mobil Listrik di Instansi Pemerintah Disiapkan

"PDB per kapita Indonesia saat ini masih di kisaran USD4.000, sehingga daya beli masyarakat untuk mobil masih di bwah Rp300 juta," jelas Shodiq dalam diskusi bertajuk "Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi", Jumat (15/10/2021).

Karena itulah penetrasi pasar kendaraan listrik di Indonesia masih relatif rendah, belum mencapai 1% dari total pasar yang ada. Berdasarkan data Gaikindo, per September 2021, penjualan BEV mencapai 611 unit, hanya 0,1% dari total pasar, sedangkan PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) 44 unit. Adapun penjualan HEV (Hybrid Electric Vehicle) mencapai 1.737 unit atau 0,3%.

Tantangan lainnya adalah dari sisi industri komponen. Transisi dari ICE ke BEV diperkirakan bakal mendisrupsi 47% perusahaan. "Pilihan mereka ada dua, tutup atau beralih membuat komponen-komponen BEV. Namun, membuat komponen membutuhkan investasi baru dan juga pengembangan sumber daya manusia," jelasnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!