Hilirisasi Riset, Keterlibatan Pelaku Industri Didorong
Jum'at, 12 November 2021 - 18:51 WIB
Sektor industri memiliki peran besar dalam pengembangan dunia riset. Karena, industri yang akan memproduksi massal hasil temuan para inventor. Foto/Dok
JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong keterlibatan pihak swasta dalam proses hilirisasi hasil penelitian . Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga sosial.
"Kalau riset dilakukan bersama antara peneliti dan swasta, maka hasilnya akan beda. Itu yang akan kami dorong lewat pendekatan triple helix," kata Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Mego Pinandito dalam webinar yang digelar Asosiasi Inventor Indonesia (AII).
Baca Juga: Dukung Kampus Merdeka, IPB University dan Universitas Pakuan Kolaborasi Penelitian
Webinar bertajuk 'Bridging Invention to Innovation to Overcome The Valley of Death Syndrome' ingin memberi pencerahan kepada para inventor agar hasil inovasi dapat dikomersialisasikan. Serta dukungan pemerintah dalam mewujudkan harapan dari para inventor tersebut.
Pembicara lain dalam webinar ini adalah Direktur Utama Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman dan Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia, Prof (R) Ir Didiek Hadjar Goenadi, MSc, PhD, INV.
Mego menambahkan, sektor industri memiliki peran besar dalam pengembangan dunia riset. Karena, industri yang akan memproduksi massal hasil temuan para inventor. Dan pemerintah menjadi fasilitator dalam pendekatan triple helix tersebut.
Saat ini lanjut Mego, hampir 80 % hasil riset yang dikembangkan para peneliti di Indonesia berasal dari dana pemerintah. Padahal di negara-negara maju itu pendanaan untuk riset itu lebih banyak dari industrinya.
"Kalau kita bicara Korea, Jepang, China. Di negara-negara maju 80% justru dari industri. 20%nya dari pemerintah,"ungkapnya.
"Kalau riset dilakukan bersama antara peneliti dan swasta, maka hasilnya akan beda. Itu yang akan kami dorong lewat pendekatan triple helix," kata Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Mego Pinandito dalam webinar yang digelar Asosiasi Inventor Indonesia (AII).
Baca Juga: Dukung Kampus Merdeka, IPB University dan Universitas Pakuan Kolaborasi Penelitian
Webinar bertajuk 'Bridging Invention to Innovation to Overcome The Valley of Death Syndrome' ingin memberi pencerahan kepada para inventor agar hasil inovasi dapat dikomersialisasikan. Serta dukungan pemerintah dalam mewujudkan harapan dari para inventor tersebut.
Pembicara lain dalam webinar ini adalah Direktur Utama Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman dan Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia, Prof (R) Ir Didiek Hadjar Goenadi, MSc, PhD, INV.
Mego menambahkan, sektor industri memiliki peran besar dalam pengembangan dunia riset. Karena, industri yang akan memproduksi massal hasil temuan para inventor. Dan pemerintah menjadi fasilitator dalam pendekatan triple helix tersebut.
Saat ini lanjut Mego, hampir 80 % hasil riset yang dikembangkan para peneliti di Indonesia berasal dari dana pemerintah. Padahal di negara-negara maju itu pendanaan untuk riset itu lebih banyak dari industrinya.
"Kalau kita bicara Korea, Jepang, China. Di negara-negara maju 80% justru dari industri. 20%nya dari pemerintah,"ungkapnya.
Lihat Juga :