Berisiko, Pemerintah Dinilai Terlalu Agresif Danai Pembangunan dengan Utang
Senin, 15 November 2021 - 18:22 WIB
"Kalau utang pemerintah di periode yang sama naiknya 4,1%, sementara swasta cuma 0,2% maka ini pertanda pemerintah terlalu agresif mendanai pembangunan dengan utang," ujar Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Senin (15/11/2021).
Bhima juga menggarisbawahi pertumbuhan utang riil sektor publik dengan riil ekonomi yang menurutnya tidak selaras. Buktinya, dengan utang jumbo, pertumbuhan ekonomi di kuartal III hanya mencapai 3,51%.
"Ini menunjukkan, peningkatan utang kurang berkualitas. Kalau utangnya produktif dan benar benar dibelanjakan untuk keperluan industrialisasi, konektivitas antarwilayah, penurunan biaya logistik maka bisa tercermin ke ekonomi," tandasnya.
Soal klaim terkendalinya utang luar negeri tersebut, Bhima menilai Indonesia tidak berkaca pada krisis utang di negara lain. Utang jangka panjang, tegas dia, tidak menjamin risiko default-nya juga rendah.
Baca Juga: Bapak ibu, Ini 8 Ciri-ciri Anak yang Punya IQ Tinggi
Bhima juga menggarisbawahi pertumbuhan utang riil sektor publik dengan riil ekonomi yang menurutnya tidak selaras. Buktinya, dengan utang jumbo, pertumbuhan ekonomi di kuartal III hanya mencapai 3,51%.
"Ini menunjukkan, peningkatan utang kurang berkualitas. Kalau utangnya produktif dan benar benar dibelanjakan untuk keperluan industrialisasi, konektivitas antarwilayah, penurunan biaya logistik maka bisa tercermin ke ekonomi," tandasnya.
Soal klaim terkendalinya utang luar negeri tersebut, Bhima menilai Indonesia tidak berkaca pada krisis utang di negara lain. Utang jangka panjang, tegas dia, tidak menjamin risiko default-nya juga rendah.
Baca Juga: Bapak ibu, Ini 8 Ciri-ciri Anak yang Punya IQ Tinggi
Lihat Juga :