Danareksa Investment Targetkan Dana Kelolaan Tumbuh 15% di 2022
Selasa, 16 November 2021 - 17:00 WIB
Menurut dia dana kelolaan industri reksa dana menurun sebesar 3% pada Oktober 2021 menjadi Rp554 triliun. Namun demikian, dana kelolaan DIM hanya menurun 2% sedikit dibandingkan penurunan kelolaan industri reksa dana, dengan pangsa pasar 4,8%-4,9%.
Sementara itu, Chief Investment Officer Danareksa Investment Management Herman Tjahjadi, mengatakan, menjelang akhir 2021 ini ada beberapa hal yang patut dicermati pasar. Pertama, meningkatnya risiko inflasi seiring naiknya harga minyak mentah dunia, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), gandum, dan kopi.
Kedua, perkembangan kasus Covid-19 di Tiongkok yang menunjukkan peningkatan di beberapa kota. Herman melihat apabila terjadi lockdown di beberapa pelabuhan utama Tiongkok, akan memberatkan rantai pasokan (supply chain).
"Kami berharap masyarakat Indonesia tetap menjaga protokol kesehatan dan tidak terlengah pada masa-masa liburan pada akhir tahun 2021," jelas Herman.
Sementara tahun depan, Herman optimistis fundamental ekonomi Indonesia semakin positif karena pandemi Covid-19 diproyeksi makin terkendali. Selain itu, adanya kemungkinan penurunan status menjadi endemi pada 2022.
Pelaku bisnis juga akan kembali melakukan investasi secara bertahap. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang meningkat 2% (year on year/yoy) pada September 2021, berbanding 1% (yoy) pada Agustus. Menurut Herman, ketika laju pertumbuhan kredit semakin positif, maka pertumbuhan ekonomi juga akan semakin baik.
Sementara itu, Chief Investment Officer Danareksa Investment Management Herman Tjahjadi, mengatakan, menjelang akhir 2021 ini ada beberapa hal yang patut dicermati pasar. Pertama, meningkatnya risiko inflasi seiring naiknya harga minyak mentah dunia, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), gandum, dan kopi.
Kedua, perkembangan kasus Covid-19 di Tiongkok yang menunjukkan peningkatan di beberapa kota. Herman melihat apabila terjadi lockdown di beberapa pelabuhan utama Tiongkok, akan memberatkan rantai pasokan (supply chain).
"Kami berharap masyarakat Indonesia tetap menjaga protokol kesehatan dan tidak terlengah pada masa-masa liburan pada akhir tahun 2021," jelas Herman.
Sementara tahun depan, Herman optimistis fundamental ekonomi Indonesia semakin positif karena pandemi Covid-19 diproyeksi makin terkendali. Selain itu, adanya kemungkinan penurunan status menjadi endemi pada 2022.
Pelaku bisnis juga akan kembali melakukan investasi secara bertahap. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang meningkat 2% (year on year/yoy) pada September 2021, berbanding 1% (yoy) pada Agustus. Menurut Herman, ketika laju pertumbuhan kredit semakin positif, maka pertumbuhan ekonomi juga akan semakin baik.
Lihat Juga :