Kementan Siap Tangani Sektor Perkebunan Hadapi Fenomena La Nina
Sabtu, 20 November 2021 - 18:26 WIB
“Sehingga apabila terjadi bencana alam akibat fenomena La Nina, seperti banjir, angin puting beliung, tanah longsor, banjir bandang dan serangan OPT (organisme pengganggu tanaman) tidak berdampak signifikan terhadap tanaman perkebunan, namun akan berpengaruh terhadap produksi,” kata Ardi Praptono dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/11/2021).
(Baca juga:Pimpin Apel PMI Kesiapsiagaan Dampak La Nina, Anies: Anda Semua Pahlawan)
Menurut Ardi Praptono, dampak negatif dari fenomena La Nina terhadap sub sektor perkebunan di Indonesia, antara lain terjadinya eksplosi OPT khususnya berbagai penyakit akibat jamur. Selain itu juga serangan hama tikus dan penurunan mutu hasil produksi perkebunan.
“Serta terjadi banjir pada lahan perkebunan terutama pada lahan gambut. Karena lahan gambut merupakan lahan yang sensitif untuk ditanami komoditas perkebunan. Apabila tidak dikelola dengan baik terutama pada musim kemarau berpotensi menyebabkan kebakaran lahan, sedangkan pada musim penghujan akan menyebabkan banjir,” katanya.
Tak hanya itu, komoditas perkebunan mayoritas ditanam pada dataran tinggi dengan tingkat topografi yang curam/lereng gunung. Sehingga apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dapat memicu tanah longsor yang berdampak pada lahan perkebunan.
Kendati demikian, apabila terjadi La Nina juga terdapat dampak positif. Salah satunya yaitu sebagai cadangan air atau mengisi penampungan air (embung, parit, dan lain-lain) sehingga bisa mengoptimalkan irigasi. “Selain itu, air hujan membuat ketersediaan air tanah cukup, sehingga penanaman tanaman perkebunan dapat dilaksanakan lebih awal,” kata Ardi Praptono.
(Baca juga:Waspada La Nina, Intip Kesiapan DKI Hadapi Curah Hujan Tinggi)
(Baca juga:Pimpin Apel PMI Kesiapsiagaan Dampak La Nina, Anies: Anda Semua Pahlawan)
Menurut Ardi Praptono, dampak negatif dari fenomena La Nina terhadap sub sektor perkebunan di Indonesia, antara lain terjadinya eksplosi OPT khususnya berbagai penyakit akibat jamur. Selain itu juga serangan hama tikus dan penurunan mutu hasil produksi perkebunan.
“Serta terjadi banjir pada lahan perkebunan terutama pada lahan gambut. Karena lahan gambut merupakan lahan yang sensitif untuk ditanami komoditas perkebunan. Apabila tidak dikelola dengan baik terutama pada musim kemarau berpotensi menyebabkan kebakaran lahan, sedangkan pada musim penghujan akan menyebabkan banjir,” katanya.
Tak hanya itu, komoditas perkebunan mayoritas ditanam pada dataran tinggi dengan tingkat topografi yang curam/lereng gunung. Sehingga apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dapat memicu tanah longsor yang berdampak pada lahan perkebunan.
Kendati demikian, apabila terjadi La Nina juga terdapat dampak positif. Salah satunya yaitu sebagai cadangan air atau mengisi penampungan air (embung, parit, dan lain-lain) sehingga bisa mengoptimalkan irigasi. “Selain itu, air hujan membuat ketersediaan air tanah cukup, sehingga penanaman tanaman perkebunan dapat dilaksanakan lebih awal,” kata Ardi Praptono.
(Baca juga:Waspada La Nina, Intip Kesiapan DKI Hadapi Curah Hujan Tinggi)
Lihat Juga :