Subsidi Besar untuk BBM dan LPG 3 Kg, Harga Jual Lebih Murah
Sabtu, 09 April 2022 - 18:06 WIB
Baca Juga: Gantikan Premium, Pertalite Resmi Jadi BBM Penugasan
Sejak pemerintahan Joko Widodo berkuasa pada Oktober 2014, harga BBM mengalami fluktuasi. Bahkan, dalam satu tahun kerap terjadi penyesuiana beberapa kali. Khusus Pertamax, penurunan terdalam terjadi pada 15 Mei 2016 yaitu menjadi sebesar Rp7.350 per liter dari harga sebelumnya 30 Maret 2016 yang ditetapkan Rp7.550 per liter. Sejak awal 2020 hingga akhir Maret 2022, Pertamina tak pernah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax.
Analis Komoditas yang juga Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengatakan wajar jika harga BBM termasuk juga LPG, saat ini dalam tren naik. Pasalnya, kedua komoditas tersebut mengalami gangguan pasokan akibat kondisi geopolitik global.
Sebagian besar kenaikan akhir-akhir ini karena perang di Ukraina dimana negara anggota NATO mengurangi pembelian gas dan minyak Rusia dan mencari sumber lain.
"Hal ini mendorong kenaikan harga. Dibandingkan China dan India harga BBM di kita lebih murah, kendati beberapa negara lain seperti Malaysia jauh lebih murah karena disubsidi pemerintahnya," ujarnya.
Hans mengapresiasi sikap pemerintah dan Pertamina yang tidak menaikkan harga Biosolar, Pertalite, dan LPG 3 kg. Pasalnya, ketiga komoditas tersebut dikonsumsi masyarakat kelas menegah ke bawah dan dipakai untuk transpostasi publik dan barang dan jasa. "Bila tiga komponen ini naik, inflasi akan naik tinggi dan daya beli masyarakat kelas menegah ke bawah akan sangat terganggu," tuturnya.
Sejak pemerintahan Joko Widodo berkuasa pada Oktober 2014, harga BBM mengalami fluktuasi. Bahkan, dalam satu tahun kerap terjadi penyesuiana beberapa kali. Khusus Pertamax, penurunan terdalam terjadi pada 15 Mei 2016 yaitu menjadi sebesar Rp7.350 per liter dari harga sebelumnya 30 Maret 2016 yang ditetapkan Rp7.550 per liter. Sejak awal 2020 hingga akhir Maret 2022, Pertamina tak pernah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax.
Analis Komoditas yang juga Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengatakan wajar jika harga BBM termasuk juga LPG, saat ini dalam tren naik. Pasalnya, kedua komoditas tersebut mengalami gangguan pasokan akibat kondisi geopolitik global.
Sebagian besar kenaikan akhir-akhir ini karena perang di Ukraina dimana negara anggota NATO mengurangi pembelian gas dan minyak Rusia dan mencari sumber lain.
"Hal ini mendorong kenaikan harga. Dibandingkan China dan India harga BBM di kita lebih murah, kendati beberapa negara lain seperti Malaysia jauh lebih murah karena disubsidi pemerintahnya," ujarnya.
Hans mengapresiasi sikap pemerintah dan Pertamina yang tidak menaikkan harga Biosolar, Pertalite, dan LPG 3 kg. Pasalnya, ketiga komoditas tersebut dikonsumsi masyarakat kelas menegah ke bawah dan dipakai untuk transpostasi publik dan barang dan jasa. "Bila tiga komponen ini naik, inflasi akan naik tinggi dan daya beli masyarakat kelas menegah ke bawah akan sangat terganggu," tuturnya.
(fai)
Lihat Juga :