Surplus Neraca Dagang Bukan Berarti Ekonomi Baik, Ini Saran CIPS
Rabu, 19 Oktober 2022 - 09:19 WIB
Baca juga: Ekspor Indonesia Turun 10,99%, Tanda-tanda Resesi Sudah Dekat?
FTA ini akan menghilangkan tarif dan mengurangi hambatan non-tarif yang selama ini membuat produk-produk Indonesia sulit bersaing di pasar non-tradisional.
"Selain itu, perjanjian dagang juga dapat membuat akses bahan baku menjadi lebih murah dan lancar, sesuatu yang akan sangat membantu memberikan nilai tambah pada produk Indonesia," tandasnya.
Lebih lanjut dia mengemukakan, kinerja perdagangan Indonesia sangat bergantung pada kondisi global. Fluktuasi harga komoditas ekspor utama Indonesia sangat tergantung pada kondisi ini dan hal ini menyebabkan nilai ekspor Indonesia mengalami kenaikan walaupun secara volume mengalami stagnansi.
"Diperkirakan kenaikan ekspor ini akan berakhir ketika harga-harga komoditas ini kembali ke titik normal," tukasnya.
Tak hanya itu, imbuh dia, pemerintah juga perlu mempermudah proses impor untuk bahan baku untuk menggerakkan industri.
FTA ini akan menghilangkan tarif dan mengurangi hambatan non-tarif yang selama ini membuat produk-produk Indonesia sulit bersaing di pasar non-tradisional.
"Selain itu, perjanjian dagang juga dapat membuat akses bahan baku menjadi lebih murah dan lancar, sesuatu yang akan sangat membantu memberikan nilai tambah pada produk Indonesia," tandasnya.
Lebih lanjut dia mengemukakan, kinerja perdagangan Indonesia sangat bergantung pada kondisi global. Fluktuasi harga komoditas ekspor utama Indonesia sangat tergantung pada kondisi ini dan hal ini menyebabkan nilai ekspor Indonesia mengalami kenaikan walaupun secara volume mengalami stagnansi.
"Diperkirakan kenaikan ekspor ini akan berakhir ketika harga-harga komoditas ini kembali ke titik normal," tukasnya.
Tak hanya itu, imbuh dia, pemerintah juga perlu mempermudah proses impor untuk bahan baku untuk menggerakkan industri.
Lihat Juga :