Tok! Bank Indonesia Kerek Suku Bunga Jadi 4,75%
Kamis, 20 Oktober 2022 - 14:40 WIB
"Keputusan ini dilakukan dalam rangka memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai fundamental akibat kuatnya dolar AS (USD) dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat," ujar Perry dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (20/10/2022).
Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi global saat ini melambat, disertai dengan tekanan inflasi yang tinggi. Ketidakpastian pasar keuangan global pun meningkat. Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi ke bawah pun terjadi di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China.
"Menguatnya dolar AS karena kenaikan Fed Fund Rate memberikan tekanan berupa pelemahan atau depresiasi mata uang negara-negara emerging," ungkap Perry.
Baca juga: Kisah Koh Steven Islamkan 300 Orang Pekerja China di Mekkah
Dia menyampaikan, BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi nasional.
Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi global saat ini melambat, disertai dengan tekanan inflasi yang tinggi. Ketidakpastian pasar keuangan global pun meningkat. Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi ke bawah pun terjadi di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China.
"Menguatnya dolar AS karena kenaikan Fed Fund Rate memberikan tekanan berupa pelemahan atau depresiasi mata uang negara-negara emerging," ungkap Perry.
Baca juga: Kisah Koh Steven Islamkan 300 Orang Pekerja China di Mekkah
Dia menyampaikan, BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi nasional.
(uka)
Lihat Juga :