Ekonom Prediksi Neraca Dagang Surplus USD406 Juta di Maret 2020
Selasa, 14 April 2020 - 08:37 WIB
Dia menambahkan, laju impor juga diperkirakan masih terkontraksi, terutama impor non-migas yang melemah terindikasi aktivitas manufaktur domestik yang menurun akibat masih terbatasnya suplai bahan baku serta penurunan permintaan domestik akibat pandemi Covid-19.
"Penurunan aktivitas manufaktur Indonesia terindikasi dari PMI Manufacturing Indonesia yang turun ke level 45,3, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 51,9. Hal tersebut mengindikasikan bahwa impor bahan baku dan barang modal cenderung lemah," ujarnya.
Namun demikian, Josua mengatakan impor barang konsumsi cenderung meningkat terkait dengan alat-alat kesehatan dan obat-obatan dalam rangka penanganan Covid-19 secara nasional. Sementara itu, impor migas pun diperkirakan juga lemah terindikasi dari penurunan harga minyak hingga -54,24% (mtm).
"Penurunan aktivitas manufaktur Indonesia terindikasi dari PMI Manufacturing Indonesia yang turun ke level 45,3, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 51,9. Hal tersebut mengindikasikan bahwa impor bahan baku dan barang modal cenderung lemah," ujarnya.
Namun demikian, Josua mengatakan impor barang konsumsi cenderung meningkat terkait dengan alat-alat kesehatan dan obat-obatan dalam rangka penanganan Covid-19 secara nasional. Sementara itu, impor migas pun diperkirakan juga lemah terindikasi dari penurunan harga minyak hingga -54,24% (mtm).
(fai)
Lihat Juga :