Pesan Menteri Ekonomi Jerman ke China: Kami Pasar Terbuka, Tapi Tidak Berarti Bodoh

Selasa, 15 November 2022 - 16:08 WIB
Pernyataan Habeck muncul setelah Kanselir Jerman, Olaf Scholz melakukan perjalanan kontroversial ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada awal November, lalu. Dia menjadi pemimpin G-7 pertama yang melakukan perjalanan ke Republik Rakyat China sejak awal pandemi Covid-19.

Habeck juga mengatakan, industri mana yang harus dan tidak boleh membentuk obligasi yang lebih dekat dengan China, dengan mengatakan ada beberapa sektor "yang tidak terbuka untuk dijual."

Bagian dari layanan kesehatan, semikonduktor, telekomunikasi, energi, dan infrastruktur menjadi sektor penting bagi Jerman. Seperti pelabuhan di Hamburg, termasuk di antara area di mana Jerman akan menganggap uang dari luar negeri secara "skeptis," kata Habeck.

Anggota koalisi Scholz di Berlin telah menyatakan, keprihatinannya terhadap hubungan Jerman dengan China. Habeck mengatakan, bahwa meskipun ada "hungan baik dengan China," dia "tidak bisa menjanjikan" tidak akan ada argumen lain tentang topik tersebut di dalam pemerintah Jerman.

Sejarah hak asasi manusia China adalah salah satu alasan keraguan negara-negara untuk tumbuh lebih dekat dengan negara itu. Pada bulan Agustus, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan perlakuan China terhadap Uighur dan kelompok etnis minoritas lainnya dapat dikategorikan sebahai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sementara pemerintahan Joe Biden (Presiden AS) memberlakukan pembatasan perdagangan pada lebih dari 30 entitas China pada bulan Desember terkait pelanggaran hak asasi manusia. Beijing telah berulang kali membantah bahwa mereka telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Uighur.

Investor dan pebisnis di luar China juga menjadi lebih berhati-hati ketika berurusan dengan negara berjuluk Negeri Tirai Bambu itu dalam beberapa tahun terakhir. Sentimen seperti penguncian Covid-19 yang ketat mencekik rantai pasokan dan Beijing menindak perusahaan teknologi asing, menjadi beberapa pertimbangan.

Sesuatu yang diyakini tidak akan jauh berbeda saat ini saat Presiden Xi Jinping telah menetapkan rencana untuk masa jabatan ketiganya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!