Bos Garuda: Tanpa Penumpang, Keuangan Makin Babak Belur
Jum'at, 24 Juli 2020 - 12:01 WIB
loading...
A
A
A
Irfan menjelaskan situasi pandemi sangat menantang. Pada Mei tahun ini, okupansi penumpang dicatat perseroan tinggal 10 persen. Kondisi itu, mengakibatkan emiten berkode GIAA harus melakukan sejumlah efisiensi seperti percepatan masa kerja karyawan kontrak, pemotongan gaji pegawai sampai direksi dan komisaris, serta penawaran pensiun dini. "Saat in sudah lebih dari 400 orang yang mengambil pensiun dini," ungkapnya.
Baca Juga: Pendapatan Babak Belur Dihantam Corona, Garuda Indonesia Fokus Bisnis Kargo
Untuk mempertahankan bisnis penerbangan, Garuda juga menggencarkan angkutan kargo. Dalam waktu dekat, Garuda akan merilis layanan angkutan pengiriman kilat yang bisa mengantar makanan dari kota ke kota selama setengah hari. Perseroan juga menerbangkan lebih dari sepuluh pesawat barang setiap hari. "Kami pun kedatangan pesawat freighter dua unit," jelasnya.
Selain itu, Garuda, lanjut Irfan, berupaya memastikan protokol kesehatan, terutama di dalam pesawat, terpenuhi. Protokol antara lain, jaga jarak yang diterapkan dengan mengosongkan kursi tengah untuk kelas ekonomi dan kursi bisnis hanya diisi untuk satu orang.
Baca Juga: Pendapatan Babak Belur Dihantam Corona, Garuda Indonesia Fokus Bisnis Kargo
Untuk mempertahankan bisnis penerbangan, Garuda juga menggencarkan angkutan kargo. Dalam waktu dekat, Garuda akan merilis layanan angkutan pengiriman kilat yang bisa mengantar makanan dari kota ke kota selama setengah hari. Perseroan juga menerbangkan lebih dari sepuluh pesawat barang setiap hari. "Kami pun kedatangan pesawat freighter dua unit," jelasnya.
Selain itu, Garuda, lanjut Irfan, berupaya memastikan protokol kesehatan, terutama di dalam pesawat, terpenuhi. Protokol antara lain, jaga jarak yang diterapkan dengan mengosongkan kursi tengah untuk kelas ekonomi dan kursi bisnis hanya diisi untuk satu orang.
(nng)
Lihat Juga :