Akademisi: Regulasi Bahaya Kemasan Harus Transparan
Jum'at, 23 Juni 2023 - 07:41 WIB
loading...
A
A
A
Begitu juga dengan isu BPA berbahaya galon guna ulang, dia juga melihat perlakukan serupa di mana tidak ada transparansi terkait masalah ini. Dia mengatakan BPOM pernah menyampaikan hasil risetnya yang mengatakan telah menemukan adanya galon yang telah melewati batas aman di beberapa kota.
“Tapi lagi-lagi tidak mau menyebutkan galon dari brand apa saja yang ditemukan itu. Ini kan bisa sangat membingungkan masyarakat,” ucapnya.
Secara aspek kimia, dia mengaku tidak tahu sama sekali mengenai zat-zat kimia dalam kemasan pangan ini. Namun, dari ilmu komunikasi, dia mengatakan bahwa ada ketidaktransparanan regulator dalam mempublikasikan hasil risetnya terhadap zat-zat kimia berbahaya yang ada dalam kemasan pangan seperti kasus etilen glikol yang terjadi baru-baru ini.
“Bukan ranah saya mengomentari aspek kimia dari etilen glikol dan BPA yang ada dalam kemasan pangan. Tapi, saya bisa menganalisanya dari sudut komunikasinya,” ujarnya.
Dia mencontohkan soal BPA yang cuma menyampaikan berdasarkan apa yang dibacanya dari kasus-kasus yang terjadi di Eropa dan Amerika. Begitu juga dengan perkembangan isu ini di Indonesia.
Begitu juga dengan etilen glikol yang ada pada sirup obat batuk dan galon sekali pakai, dia hanya mengetahui secara teori saja bahwa zat-zat kimia dalam kemasan-kemasan itu bisa membahayakan kesehatan. “Tapi bagaimana zat-zat tersebut bisa membahayakan, itu kan ranahnya para ahli-ahli kimia yang tahu. Saya sama sekali tidak paham hal itu,” tuturnya.
“Tapi lagi-lagi tidak mau menyebutkan galon dari brand apa saja yang ditemukan itu. Ini kan bisa sangat membingungkan masyarakat,” ucapnya.
Secara aspek kimia, dia mengaku tidak tahu sama sekali mengenai zat-zat kimia dalam kemasan pangan ini. Namun, dari ilmu komunikasi, dia mengatakan bahwa ada ketidaktransparanan regulator dalam mempublikasikan hasil risetnya terhadap zat-zat kimia berbahaya yang ada dalam kemasan pangan seperti kasus etilen glikol yang terjadi baru-baru ini.
“Bukan ranah saya mengomentari aspek kimia dari etilen glikol dan BPA yang ada dalam kemasan pangan. Tapi, saya bisa menganalisanya dari sudut komunikasinya,” ujarnya.
Dia mencontohkan soal BPA yang cuma menyampaikan berdasarkan apa yang dibacanya dari kasus-kasus yang terjadi di Eropa dan Amerika. Begitu juga dengan perkembangan isu ini di Indonesia.
Begitu juga dengan etilen glikol yang ada pada sirup obat batuk dan galon sekali pakai, dia hanya mengetahui secara teori saja bahwa zat-zat kimia dalam kemasan-kemasan itu bisa membahayakan kesehatan. “Tapi bagaimana zat-zat tersebut bisa membahayakan, itu kan ranahnya para ahli-ahli kimia yang tahu. Saya sama sekali tidak paham hal itu,” tuturnya.
Lihat Juga :