Transformasi Bisnis Tidak Mudah, Simak Resep dari Bos Great Giant Foods
Minggu, 02 Juli 2023 - 13:46 WIB
loading...
A
A
A
Dia pun menekankan bahwa bisnis hari ini dan di kemudian hari harus punya produk yang bagus, pembeda atau keunikan yang bagus, pengalaman offline dan online yang bagus serta harus punya purpose.
Tommy melanjutkan, elemen kedua yang jadi kunci dari transformasi adalah kepemimpinan (leadership). Dalam hal ini, harus ada kekompakan dan keselarasan antara pemimpin dengan tim dalam mencapai tujuan ataupun strategi yang telah ditetapkan.
“Seluruh direksi dan tim harus sepakat mau ke sana (tujuan/visi misi), harus bersatu,” tandasnya. Selain itu, sambung dia, harus ada engagement atau interaksi dan diskusi antara atasan dan bawahan.
“Kalau nggak, ibaratnya kita dalam satu kapal tapi mau ke mana nih? Bingung. Akan terjadi banyak proyek yang nggak jelas, buang-buang energi, nggak fokus, purposenya juga nggak jelas,” bebernya.
Kunci ketiga, sambung Tommy, adalah adanya faktor pembeda atau keunikan yang menjadikan bisnis atau produk lebih unggul dari pesaing.
“Ini paling susah dijawab: apa bedanya kita dengan tetangga sebelah? Secara esensi produknya sama, lalu bedanya apa?” tukasnya.
Dia menegaskan, dalam membangun model bisnis, pengusaha tidak hanya menciptakan daya saing dan produk berkualitas, melainkan juga diferensiasi.
Tommy menyontohkan produk cold pressed juice ReJuve milik GGF dipastikan berbeda dan bisa menang dari para pesaing yang bermunculan karena buah nanas menjadi komponen bahan dasar yang utama, di mana GGF sendiri diketahui memiliki perkebunan nanas dan menjadi produsen serta eksportir terbesar nanas kalengan.
Baca juga: 6 Penyakit yang Bisa Disembuhkan dengan Konsumsi Nanas, Salah Satunya Ampuh Obati Diare
Kemudian, dia menyebutkan elemen kunci keempat dan kelima adalah operasional bisnis serta sumber daya manusia (SDM) dan budaya organisasi.
“Untuk elemen kunci keempat dan kelima ini kita bisa kelola bisnis kita berdasarkan poin kedua dan ketiga tadi. Sederhana tapi susah diterapkan,” ujarnya.
Meski begitu, dia harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan semua jabatan tinggi tersebut. Saat masih muda, pria asal Surabaya ini selalu kesulitan mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, dan juga pernah dikirim ke sekolah asrama supaya lebih disiplin.
Tommy pun menyadari pentingnya rajin belajar saat duduk di bangku kelas 2 SMA, dan akhirnya dia berhasil menjadi mahasiswa Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia.
Lantaran keterbatasan finansial, dia terpaksa membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan paruh waktu sebagai janitor, pelayan restoran, dan juru masak demi memenuhi kebutuhan di luar negeri.
Namun, usaha Tommy yang dimulai dari bawah justru mengajarkannya bahwa sifat rendah hati, gigih, dan mudah bergaul adalah modal penting di dunia kerja, bahkan saat sudah menjadi pemimpin.
Tommy melanjutkan, elemen kedua yang jadi kunci dari transformasi adalah kepemimpinan (leadership). Dalam hal ini, harus ada kekompakan dan keselarasan antara pemimpin dengan tim dalam mencapai tujuan ataupun strategi yang telah ditetapkan.
“Seluruh direksi dan tim harus sepakat mau ke sana (tujuan/visi misi), harus bersatu,” tandasnya. Selain itu, sambung dia, harus ada engagement atau interaksi dan diskusi antara atasan dan bawahan.
“Kalau nggak, ibaratnya kita dalam satu kapal tapi mau ke mana nih? Bingung. Akan terjadi banyak proyek yang nggak jelas, buang-buang energi, nggak fokus, purposenya juga nggak jelas,” bebernya.
Kunci ketiga, sambung Tommy, adalah adanya faktor pembeda atau keunikan yang menjadikan bisnis atau produk lebih unggul dari pesaing.
“Ini paling susah dijawab: apa bedanya kita dengan tetangga sebelah? Secara esensi produknya sama, lalu bedanya apa?” tukasnya.
Dia menegaskan, dalam membangun model bisnis, pengusaha tidak hanya menciptakan daya saing dan produk berkualitas, melainkan juga diferensiasi.
Tommy menyontohkan produk cold pressed juice ReJuve milik GGF dipastikan berbeda dan bisa menang dari para pesaing yang bermunculan karena buah nanas menjadi komponen bahan dasar yang utama, di mana GGF sendiri diketahui memiliki perkebunan nanas dan menjadi produsen serta eksportir terbesar nanas kalengan.
Baca juga: 6 Penyakit yang Bisa Disembuhkan dengan Konsumsi Nanas, Salah Satunya Ampuh Obati Diare
Kemudian, dia menyebutkan elemen kunci keempat dan kelima adalah operasional bisnis serta sumber daya manusia (SDM) dan budaya organisasi.
“Untuk elemen kunci keempat dan kelima ini kita bisa kelola bisnis kita berdasarkan poin kedua dan ketiga tadi. Sederhana tapi susah diterapkan,” ujarnya.
Selamatkan Perusahaan dengan Jurus Transformasi"Ketok Magic"
Sebelum menjabat pucuk pimpinan di GGF, Tommy diketahui memiliki jam terbang cukup lama sebagai VP termuda dari Unilever Asia Pasifik, Senior Vice President divisi Brand & Consumer Acquisition PT XL Axiata, CEO divisi Consumer Group and Distribution PT Sinarmas, dan CEO dari PT Sreeya.Meski begitu, dia harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan semua jabatan tinggi tersebut. Saat masih muda, pria asal Surabaya ini selalu kesulitan mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, dan juga pernah dikirim ke sekolah asrama supaya lebih disiplin.
Tommy pun menyadari pentingnya rajin belajar saat duduk di bangku kelas 2 SMA, dan akhirnya dia berhasil menjadi mahasiswa Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia.
Lantaran keterbatasan finansial, dia terpaksa membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan paruh waktu sebagai janitor, pelayan restoran, dan juru masak demi memenuhi kebutuhan di luar negeri.
Namun, usaha Tommy yang dimulai dari bawah justru mengajarkannya bahwa sifat rendah hati, gigih, dan mudah bergaul adalah modal penting di dunia kerja, bahkan saat sudah menjadi pemimpin.
Lihat Juga :