Pengusaha Muda Bersuara: Project S TikTok Berpotensi Jadi Tsunami bagi UMKM Indonesia
Jum'at, 15 September 2023 - 07:48 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: E-Commerce Harus Punya Empati Bantu UMKM, Teten: Jangan Dihantam, Kemudian Mati
Alumni Univesitas Hasanuddin mengatakan, berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) nilai transaksi perdagangan elektronik atau e-commerce di Indonesia mencapai Rp476,3 triliun pada 2022. Sedangkan volume transaksi e-commerce tercatat sebanyak Rp3,49 miliar. Nilai transaksi e-commerce pada 2022 lebih tinggi 18,8 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp401 triliun.
"Namun yang disayangkan nilai transaksi sebesar itu dinikmati produsen luar negeri seperti China. Di saat UMKM kita masih terseok-seok belum mampu bersaing, malah muncul ancaman baru yakni Project S TikTok," ungkap Tri.
Ia juga menyoroti dengan menjamurnya sosial e-commerce di Indonesia ini dikhawatirkan membunuh UMKM lokal. Banjirnya produk impor yang dijual reseller di TikTok Shop memiliki harga yang lebih rendah ketimbang produk buatan UMKM asli Indonesia. Sehingga produk-produk UMKM tak laku dijual.
“Sosial e-commerce hari ini menjadi mimpi buruk bagi para UMKM Lokal, karena yang berjualan melalui sosial e-Commerce telah menjelma menjadi predator pricing dimana para produsen di e-commerce memutus mata rantai penjualan yang sangat panjang ditambah lagi mereka menjual dengan harga yg lebih murah dari pesaing tujuannya untuk mematikan pesaingnya, ini sangat berbahaya," pungkasnya.
Alumni Univesitas Hasanuddin mengatakan, berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) nilai transaksi perdagangan elektronik atau e-commerce di Indonesia mencapai Rp476,3 triliun pada 2022. Sedangkan volume transaksi e-commerce tercatat sebanyak Rp3,49 miliar. Nilai transaksi e-commerce pada 2022 lebih tinggi 18,8 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp401 triliun.
"Namun yang disayangkan nilai transaksi sebesar itu dinikmati produsen luar negeri seperti China. Di saat UMKM kita masih terseok-seok belum mampu bersaing, malah muncul ancaman baru yakni Project S TikTok," ungkap Tri.
Ia juga menyoroti dengan menjamurnya sosial e-commerce di Indonesia ini dikhawatirkan membunuh UMKM lokal. Banjirnya produk impor yang dijual reseller di TikTok Shop memiliki harga yang lebih rendah ketimbang produk buatan UMKM asli Indonesia. Sehingga produk-produk UMKM tak laku dijual.
“Sosial e-commerce hari ini menjadi mimpi buruk bagi para UMKM Lokal, karena yang berjualan melalui sosial e-Commerce telah menjelma menjadi predator pricing dimana para produsen di e-commerce memutus mata rantai penjualan yang sangat panjang ditambah lagi mereka menjual dengan harga yg lebih murah dari pesaing tujuannya untuk mematikan pesaingnya, ini sangat berbahaya," pungkasnya.
Lihat Juga :