5 Dinamika Perubahan Global Jadi Sorotan Perry Warjiyo, Intip Detailnya

Kamis, 19 Oktober 2023 - 17:54 WIB
loading...
5 Dinamika Perubahan...
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyoroti bahwa dinamika global itu sangat cepat dan sangat tidak terprediksi. Dia pun menyebut ada 5 dinamika perubahan global yang cepat. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyoroti bahwa dinamika global itu sangat cepat dan sangat tidak terprediksi. Semenjak Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan lalu, terjadi perubahan yang sangat cepat dalam kurun 2 minggu setelahnya.

"Ini dikonfirmasi dalam pembahasan sidang G20 dan IMF di Maroko yang dihadiri saya dan bu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati," ujar Gubernur BI , Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG BI di Jakarta, Kamis (19/10/2023).

Dia pun menyebut ada 5 dinamika perubahan global yang cepat. Pertama, bahwa pertumbuhan ekonomi global akan melambat. Baca Juga:Tok! Suku Bunga Acuan BI Naik 25 Bps Jadi 6,00%

"Dengan divergensi pertumbuhan antar negara yang melebar. Pertumbuhan ekonomi global diramal menyentuh 2,9% tahun ini, dan tahun depan 2,8%," sambung Perry.

Baca Juga: Perlambatan Ekonomi Global Mulai Merembet ke Indonesia, Begini Langkah Pemerintah

Perry juga menyebut bahwa divergensinya Amerika Serikat (AS) tahun ini masih kuat tapi juga akan melambat tahun depan. China pun sekarang sudah melambat di tahun ini dan akan melambat pula di tahun depan.

"Ini di tahun 2024-2025 ekonomi akan melambat, di 2024 divergensi melebar, kemudian menyempit di 2025, di 2026 baru mulai stabilizing. Jadi, tahun 2024 masih dibayangi ketidakpastian oleh pertumbuhan ekonomi global yang melambat," jelas Perry.

Seluruh dunia sebut dia, harus mendorong permintaan domestik supaya pertumbuhan ekonominya tinggi sebagai konsekuensinya.

"Kedua, tensi ketegangan geopolitik ini meningkat, menyebabkan harga minyak sudah naik, harga pangan tetap tinggi, ini akan memperlambat penurunan inflasi global," tambah Perry.

Yang ketiga, sambung Perry, suku bunga di negara maju termasuk Fed Funds Rate (FFR) akan menjadi higher for longer. Bahkan, BI memproyeksikan ada probabilitas 40% FFR naik di Desember
2023.

"Tapi naik tidak naik, FFR itu masih akan tetap tinggi di paruh I 2024, baru akan menurun pada paruh II 2024," ucap Perry.

Dinamika keempat adalah Kenaikan suku bunga global tidak hanya di jangka pendek. Kebijakan moneter menaikkan suku bunga adalah untuk dijangka pendek.

"Suku bunga US Treasury, obligasi Paman Sam tinggi sekitar 5,2%, tapi tenor 10 tahun 4,8%, yang 30 tahun juga naik, ini bedanya dengan bulan lalu," kata Perry.

Dia mengatakan bahwa ini adalah bentuk itu term premia, perbedaan suku bunga tenor jangka panjang dan jangka pendek. Sekarang, term premia naik, sehingga suku bunga jangka panjang mulai bergerak naik.

"Naik karena kebutuhan pembiayaan utang pemerintah negara-negara maju dan juga negara berkembang. Utangnya buat apa? Selama COVID-19, para pemerintah berbagai negara butuh pembiayaan fiskal tinggi, utangnya tinggi, dan market sudah mulai price ini," papar Perry.

Jadi situasi higher for longer bukan hanya berlaku untuk FFR, dan sekarang juga akan higher untuk yield surat berharga obligasi pemerintah dari negara-negara maju.

"Implikasinya dari yang keempat, sehingga aliran modal dari negara emerging yang tadinya sudah mulai stabil, dan mulai masuk ke Indonesia dan negara-negara EM, sekarang kembali lagi ke negara maju dan memperkuat dolar AS," pungkas Perry.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kurs Tembus Rp18 Ribu,...
Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Optimisme Fiskal di...
Optimisme Fiskal di Tengah Warning Sign Ekonomi, Pemerintah Perlu Pulihkan Trust Market
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Sangkal Menkeu dan Gubernur...
Sangkal Menkeu dan Gubernur BI Diganti, Mensesneg: Justru Harus Kita Perkuat
Rekomendasi
Jaksa Agung Serahkan...
Jaksa Agung Serahkan Hasil Pemulihan Aset Rp1,22 Triliun ke Purbaya
Papan Tulis Sakti Jepang...
Papan Tulis Sakti Jepang Bikin Belanda Mandek
Buka Peluang Global,...
Buka Peluang Global, BRImo Kini Hadirkan Reksa Dana USD Batavia untuk Investor
Berita Terkini
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
IHSG Dibuka Melesat...
IHSG Dibuka Melesat 1,85% ke 6.118, Mayoritas Saham Menghijau
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp18.000, Buyback Melonjak Rp46.000 per Gram
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Pastikan Kualitas BBM dengan Pengelolaan Impurities di Kilang
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
Bank Mantap Dorong Penerapan...
Bank Mantap Dorong Penerapan Gaya Hidup Ramah Lingkungan di Sekolah
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved