Tantangan Komoditas Kopi di Era Perubahan Iklim Dunia
Selasa, 24 Oktober 2023 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Lebih jauh dari itu, berbeda jenis biji kopi juga memiliki kerentanan terhadap suhu temperatur yang berbeda pula. Biji kopi Arabika mempunyai batas toleransi fotosintesis di suhu 25 derajat celcius. Lebih dari itu, tanaman tidak dapat berkembang dengan baik. Sementara biji kopi Robusta lebih kuat dan mampu bertahan di suhu 30 derajat celcius.
“Semakin panas suhu, artinya hama dan penyakit makin mudah untuk berkembang. Untuk pengaruh angin, makin kencang, maka menyebabkan keguguran daun. Dan kelembapan juga dapat memacu perkembangan hama,” ujar dia.
ICS 2023 juga turut mendatangkan Judith Ganes, seorang analis komoditi ternama di dunia. Ia memaparkan, bahwa perubahan iklim dunia juga mengakibatkan perlunya lebih banyak varietas kopi yang tahan terhadap penyakit.
“Para petani juga khawatir akan kekurangan tenaga kerja dan meningkatnya biaya input. Dan pada saat yang sama, terjadi perubahan cuaca yang lebih ekstrem yang mengganggu siklus pertumbuhan,” tukasnya.
Mengetahui tantangan tersebut, Surip Mawardi mengusulkan dua pendekatan strategi. Pertama adalah adaptasi, yaitu dengan mengembangkan varietas biji Arabika terbaru yang mampu bertahan di perubahan iklim juga mengembangkan spesies biji Liberica yang mampu tumbuh di pantai atau gambut tipis.
Kedua adalah partisipasi, yaitu butuhkan aksi kolektif yang mampu mengurangi emisi karbon. Surip juga mengajak agar para pemain di ekosistem kopi mulai memperhatikan emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas bisnisnya.
“Semakin panas suhu, artinya hama dan penyakit makin mudah untuk berkembang. Untuk pengaruh angin, makin kencang, maka menyebabkan keguguran daun. Dan kelembapan juga dapat memacu perkembangan hama,” ujar dia.
ICS 2023 juga turut mendatangkan Judith Ganes, seorang analis komoditi ternama di dunia. Ia memaparkan, bahwa perubahan iklim dunia juga mengakibatkan perlunya lebih banyak varietas kopi yang tahan terhadap penyakit.
“Para petani juga khawatir akan kekurangan tenaga kerja dan meningkatnya biaya input. Dan pada saat yang sama, terjadi perubahan cuaca yang lebih ekstrem yang mengganggu siklus pertumbuhan,” tukasnya.
Mengetahui tantangan tersebut, Surip Mawardi mengusulkan dua pendekatan strategi. Pertama adalah adaptasi, yaitu dengan mengembangkan varietas biji Arabika terbaru yang mampu bertahan di perubahan iklim juga mengembangkan spesies biji Liberica yang mampu tumbuh di pantai atau gambut tipis.
Kedua adalah partisipasi, yaitu butuhkan aksi kolektif yang mampu mengurangi emisi karbon. Surip juga mengajak agar para pemain di ekosistem kopi mulai memperhatikan emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas bisnisnya.
Lihat Juga :