alexa snippet

Oleh-oleh Luhut dari Pertemuan IMF-Bank Dunia di Washington

Oleh-oleh Luhut dari Pertemuan IMF-Bank Dunia di Washington
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menggelar temu wartawan terkait kunjungannya ke AS dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia. Grafis/Istimewa
A+ A-
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan hari ini mengadakan temu wartawan dalam agenda Coffee Morning terkait dengan kunjungannya ke Amerika Serikat selama beberapa hari bertemu dengan petinggi IMF dan World Bank (Bank Dunia).

Melalui pertemuan tersebut, dia menginformasikan persiapan annual meeting World Bank-IMF di Bali tahun depan yang mana disampaikan update mengenai tempat, hotel, agenda yang akan dilaksanakan dan juga soal Gunung Agung.

"Saya Ibu Ani (Menkeu Sri Mulyani) dan Gubernur BI (Agus Martowardojo) kesana. Dari apa yang kami berikan, komentar dari Presiden WB maupun IMF, mereka mendapatkan laporan karena baru bulan lalu, tim IMF ke Bali, mereka bilang mereka puas atas semua persiapan yang kita lakukan," kata dia di kantornya, Jakarta, Selasa (17/10/2017).

Di Washington DC, Luhut juga bertemu dengan OCEAN Concervation dan membahas bahan plastic dubrish yang ada di daerah sungai Citarum lantaran sungai tersebut pembawa sampah yang banyak ke laut.

"Ini kita lakukan secara terpadu. Turis destinasi kita di Labuan Bajo juga banyak sampah. Nah, ini mau kita selesaikan. Mereka kasih asistensi untuk menyelesaikan. Ini menggembirakan karena kita memafaatkan annual meeting untuk kepentingan nasional kita," jelasnya.

Dalam kesempatan itu dia juga bertemu dengan Menteri Perdagangan Amerika Serikat membahas masalah perdagangan Indonesia yang surplus dengan Amerika Serikat.

"Tapi sebenarnya mereka pertama tanya soal Freeport. Dia tanya, Freeport gimana. Saya bilang 51% itu enggak bisa ditawar. Prosesnya saja mau selesai 2019 apa 2021. Smelter juga tidak ada diskusi. Pengelolaan sepenuhnya di tangan Indonesia dan mereka enggak masalah," ungkap Luhut.

Selain itu, ada juga pembahasan mengenai kelapa sawit yang sebaiknya tidak dikenakan tarif tinggi. "51% kelapa sawit itu palm plasma, kalau ini disulitkan maka akan memengaruhi 15 juta petani kita. Meskipun kita G20 tapi rakyat miskin masih banyak," imbuhnya.

Luhut juga sedang menyiapkan update soal Gunung Agung dengan membawa serta Prof Surono yang menjelaskan dengan detail soal kondisi gunung tersebut.

"Yang menarik memang sejak awas sampai hari ini energinya terus turun. Ini kita tinggal tunggu apakah statusnya mau diturunkan atau enggak," katanya.
(izz)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top