Rupiah Tetap Adem Meski Ekonomi Minus 5,32%, Ini Penyebabnya

Kamis, 06 Agustus 2020 - 17:13 WIB
loading...
Rupiah Tetap Adem Meski...
Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Krisis Ekonomi 1998 membuat nilai tukar rupiah sangat jatuh di pasar. Pada tahun akhir 1997 mata uang Garuda berada di level Rp4.850 per dolar AS, jatuh dengan cepat ke level Rp17.000 per dolar AS pada 22 Januari 1998.

Lantas, kenapa pada pertumbuhan ekonomi di kuartal II/2020 ini yang minus 5,32%, rupiah justru cenderung stabil?. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menjelaskan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini sudah terprediksi. Sehingga, ada langkah antisipasi agar rupiah tidak jatuh.

"Pertumbuhan ekonomi yang minus ini sudah diprediksi, makanya sektor keuangan lebih adem, karena sudah langkah intervensi dari bank sentral," ujarnya dalam press conference Indef, Jakarta, Kamis (6/8/2020). (Baca juga: Kejar-kejaran Warnai Penangkapan Pencuri Mobil Bank BRI )

Selain itu, imbuh Eko, yang menjadi pembeda dengan krisis 1998 adalah cadangan devisa (cadev) saat ini lebih banyak, sehingga stabilitas cukup terjaga.

"Krisis ekonomi '98 beda dengan saat ini. Karena cadev kita juga besar, mungkin dilakukan intervensi oleh bank sentral sehingga rupiah stabil," terangnya. (Baca juga: 14 Negara Buka Pintu Bagi 'Pahlawan Devisa' Indonesia )

Tak hanya itu, suku bunga Indonesia masih menarik dibandingkan dengan negara-negara lain. Meski demikian, dia memperingatkan kepada pemerintah, jika situasinya tidak diubah maka akan berdampak pada sektor keuangan. "Jika pertumbuhan ekonomi terus merosot, image kepada sektor keuangan juga akan terseret," tandasnya.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Biaya Nongkrong Kian...
Biaya Nongkrong Kian Mahal, Bikin Orang Enggan Bertemu
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
Bukan Cuma Harga Minyak,...
Bukan Cuma Harga Minyak, Tata Kelola APBN yang Buruk Jadi Biang Kerok Lemahnya Rupiah
Rupiah Ditutup Menguat...
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.986 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?
Rupiah Belum Menjauh...
Rupiah Belum Menjauh dari Level Rp18.068 per USD, Intip 2 Sentimen Penyebabnya
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rekomendasi
3 Tersangka Kasus Suap...
3 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Pokmas Jatim Beri Rp6,9 M agar Dapat Jatah
Ahli Waris Laporkan...
Ahli Waris Laporkan Dugaan Kepemilikan Aset Tak Wajar Mantan Hakim dan Jaksa ke KPK
Mahfud MD Ungkap Alasan...
Mahfud MD Ungkap Alasan KPK Harus Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Singgung Asas Konflik Kepentingan
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved