Rupiah Tetap Adem Meski Ekonomi Minus 5,32%, Ini Penyebabnya

loading...
Rupiah Tetap Adem Meski Ekonomi Minus 5,32%, Ini Penyebabnya
Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Krisis Ekonomi 1998 membuat nilai tukar rupiah sangat jatuh di pasar. Pada tahun akhir 1997 mata uang Garuda berada di level Rp4.850 per dolar AS, jatuh dengan cepat ke level Rp17.000 per dolar AS pada 22 Januari 1998.

Lantas, kenapa pada pertumbuhan ekonomi di kuartal II/2020 ini yang minus 5,32%, rupiah justru cenderung stabil?. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menjelaskan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini sudah terprediksi. Sehingga, ada langkah antisipasi agar rupiah tidak jatuh.

"Pertumbuhan ekonomi yang minus ini sudah diprediksi, makanya sektor keuangan lebih adem, karena sudah langkah intervensi dari bank sentral," ujarnya dalam press conference Indef, Jakarta, Kamis (6/8/2020). (Baca juga:Kejar-kejaran Warnai Penangkapan Pencuri Mobil Bank BRI)

Selain itu, imbuh Eko, yang menjadi pembeda dengan krisis 1998 adalah cadangan devisa (cadev) saat ini lebih banyak, sehingga stabilitas cukup terjaga.



"Krisis ekonomi '98 beda dengan saat ini. Karena cadev kita juga besar, mungkin dilakukan intervensi oleh bank sentral sehingga rupiah stabil," terangnya. (Baca juga: 14 Negara Buka Pintu Bagi 'Pahlawan Devisa' Indonesia)

Tak hanya itu, suku bunga Indonesia masih menarik dibandingkan dengan negara-negara lain. Meski demikian, dia memperingatkan kepada pemerintah, jika situasinya tidak diubah maka akan berdampak pada sektor keuangan. "Jika pertumbuhan ekonomi terus merosot, image kepada sektor keuangan juga akan terseret," tandasnya.
(ind)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top