Mengintip Bisnis Prajogo Pangestu, Orang Paling Kaya di Indonesia Saat Ini
Rabu, 22 November 2023 - 05:21 WIB
loading...
A
A
A
Bursa saham sempat menangguhkan sementara perdagangan saham BREN untuk mengekang volatilitas harga. Perdagangan dilanjutkan Senin, (10/11) tetapi kapitalisasi pasarnya masih sekitar USD45 miliar, naik dari USD8,3 miliar ketika terdaftar.
Barito Renewables merupakan induk perusahaan dari Star Energy Geothermal Group, produsen panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas 886 megawatt. Star Energy mengoperasikan tiga proyek tenaga panas bumi di provinsi Jawa Barat, dan memiliki izin untuk melakukan eksplorasi di beberapa bagian provinsi Maluku Utara dan Lampung.
Menurut firma riset, ThinkGeoEnergy, Indonesia adalah produsen energi panas bumi terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat (AS), dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi terpasang sebesar 2.356 megawatt pada akhir tahun lalu.
Tahun lalu, Green Era milik bisnis keluarga Pangestu yang berbasis di Singapura, mengambil alih Star Energy, dengan mengakuisisi sepertiga saham dari BCPG Thailand seharga USD440 juta. Sisa saham sudah dipegang oleh Barito Pacific, perusahaan induk yang terdaftar, di mana Pangestu memiliki saham mayoritas.
Analis dari Samuel Sekuritas Indonesia, Yosua Zisokhi seperti dikutip dari Forbes mengatakan, melalui email bahwa investor optimistis seputar prospek pertumbuhan perusahaan di tengah hype tentang energi panas bumi, yang mendapat dorongan oleh pembentukan pasar perdagangan karbon Indonesia.
Pangestu juga baru-baru ini mendapat manfaat dari investasinya dalam emas hitam. Saham perusahaan pertambangan batu bara miliknya di Petrindo Jaya Kreasi naik 30 kali lipat sejak IPO Maret. Seminggu setelah debutnya, bursa saham memperingatkan "aktivitas yang tidak biasa" dalam perdagangan sahamnya.
Barito Renewables merupakan induk perusahaan dari Star Energy Geothermal Group, produsen panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas 886 megawatt. Star Energy mengoperasikan tiga proyek tenaga panas bumi di provinsi Jawa Barat, dan memiliki izin untuk melakukan eksplorasi di beberapa bagian provinsi Maluku Utara dan Lampung.
Menurut firma riset, ThinkGeoEnergy, Indonesia adalah produsen energi panas bumi terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat (AS), dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi terpasang sebesar 2.356 megawatt pada akhir tahun lalu.
Tahun lalu, Green Era milik bisnis keluarga Pangestu yang berbasis di Singapura, mengambil alih Star Energy, dengan mengakuisisi sepertiga saham dari BCPG Thailand seharga USD440 juta. Sisa saham sudah dipegang oleh Barito Pacific, perusahaan induk yang terdaftar, di mana Pangestu memiliki saham mayoritas.
Analis dari Samuel Sekuritas Indonesia, Yosua Zisokhi seperti dikutip dari Forbes mengatakan, melalui email bahwa investor optimistis seputar prospek pertumbuhan perusahaan di tengah hype tentang energi panas bumi, yang mendapat dorongan oleh pembentukan pasar perdagangan karbon Indonesia.
Pangestu juga baru-baru ini mendapat manfaat dari investasinya dalam emas hitam. Saham perusahaan pertambangan batu bara miliknya di Petrindo Jaya Kreasi naik 30 kali lipat sejak IPO Maret. Seminggu setelah debutnya, bursa saham memperingatkan "aktivitas yang tidak biasa" dalam perdagangan sahamnya.
Lihat Juga :