Cegah Polusi Udara Ibu Kota, Pengembangan BBM Ramah Lingkungan Mendesak
Rabu, 13 Desember 2023 - 12:41 WIB
loading...
Pengamat energi menilai pengembangan bahan bakar minyak ramah lingkungan sejatinya sudah seharusnya diimplementasikan sesegera mungkin. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Langkah Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto untuk mengembangkan biofuel di Indonesia patut diapresiasi. Bahkan bahan bakar nabati ini tidak hanya dari produk minyak sawit atau CPO seperti biodiesel, bioavtur, dan HVO, tetapi juga produk non-CPO seperti bioetanol.
Dalam acara The 41st Conference ASEAN Federation of Engineering Organization, yang diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO), di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Rabu (22/11), Airlangga menjelaskan, pengembangan bahan bakar tersebut juga untuk memfasilitasi pembangunan berkelanjutan dan mendorong praktik ramah lingkungan. Selain itu, meningkatkan kesejahteraan sosial dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia maupun kawasan ASEAN.
Baca Juga: Program Langit Biru, Pertamina Terus Kembangkan Program Biofuel Ramah Lingkungan
Pengamat energi, Muhammad Badaruddi, mengatakan, pengembangan bahan bakar ramah lingkungan yang disampaikan Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto sejatinya sudah seharusnya diimplementasikan sesegera mungkin, mengingat kualitas udara di Jakarta yang terjadi belakangan ini kembali berada pada titik terburuk dengan status “tidak sehat”.
Baca Juga: BBM Jenis Baru Pertamax Green 95 Meluncur Hari Ini, Dijual Rp13.500 per Liter
Berdasarkan data IQAir, sejak awal November, Indeks Kualitas Udara (AQI) berada pada kisaran 120-169. Padahal,
tingkat udara sehat berada pada tingkat AQI 0-50. Bahkan, tingkat polusi di Jakarta sempat menempati peringkat ke-1 terburuk di dunia pada bulan Agustus dan September 2023 dan sampai sekarang masih menempati peringkat teratas dengan kualtitas udara terburuk di dunia.
"Adapun polusi udara terburuk di dunia hari ini berada di Kolkata India (US AQI 303), Dhaka Bangladesh (US AQI 223), Karachi Pakistan (US AQI 198), Ulaanbatar Mongolia (US AQI 169), dan Jakarta Indonesia (US AQI 168)," ungkap pria yang biasa disapa Badar ini di Jakarta, Rabu (13/12).
Dalam acara The 41st Conference ASEAN Federation of Engineering Organization, yang diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO), di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Rabu (22/11), Airlangga menjelaskan, pengembangan bahan bakar tersebut juga untuk memfasilitasi pembangunan berkelanjutan dan mendorong praktik ramah lingkungan. Selain itu, meningkatkan kesejahteraan sosial dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia maupun kawasan ASEAN.
Baca Juga: Program Langit Biru, Pertamina Terus Kembangkan Program Biofuel Ramah Lingkungan
Pengamat energi, Muhammad Badaruddi, mengatakan, pengembangan bahan bakar ramah lingkungan yang disampaikan Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto sejatinya sudah seharusnya diimplementasikan sesegera mungkin, mengingat kualitas udara di Jakarta yang terjadi belakangan ini kembali berada pada titik terburuk dengan status “tidak sehat”.
Baca Juga: BBM Jenis Baru Pertamax Green 95 Meluncur Hari Ini, Dijual Rp13.500 per Liter
Berdasarkan data IQAir, sejak awal November, Indeks Kualitas Udara (AQI) berada pada kisaran 120-169. Padahal,
tingkat udara sehat berada pada tingkat AQI 0-50. Bahkan, tingkat polusi di Jakarta sempat menempati peringkat ke-1 terburuk di dunia pada bulan Agustus dan September 2023 dan sampai sekarang masih menempati peringkat teratas dengan kualtitas udara terburuk di dunia.
"Adapun polusi udara terburuk di dunia hari ini berada di Kolkata India (US AQI 303), Dhaka Bangladesh (US AQI 223), Karachi Pakistan (US AQI 198), Ulaanbatar Mongolia (US AQI 169), dan Jakarta Indonesia (US AQI 168)," ungkap pria yang biasa disapa Badar ini di Jakarta, Rabu (13/12).
Lihat Juga :