Konsumen Asia Pasifik Diperkirakan Bakal Belanja Lebih Banyak Barang Opsional di 2024
Sabtu, 16 Desember 2023 - 21:30 WIB
loading...
Konsumen di Asia Pasifik diperkirakan bakal membelanjakan pendapatannya lebih banyak untuk kegiatan hiburan dan perjalanan di 2024. Foto/Ilustrasi/Dok.
A
A
A
JAKARTA - Menurut laporan Economic Outlook: Balancing Prices & Priorities yang dirilis Mastercard Economics Institute (MEI), wilayah Asia Pasifik di 2024 secara makro diperkirakan mengalami pertumbuhan yang stabil, umumnya setara dengan level tahun 2023. Hal itu seiring dengan stabilnya ekonomi dan faktor kunci pertumbuhan seperti ekspor dan industri pariwisata yang semakin mendekati kondisi sebelum pandemi.
Laporan itu memproyeksikan pertumbuhan yang bervariasi di seluruh wilayah. Di satu sisi, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Taiwan, dan Korea Selatan akan mengalami peningkatan, sementara ada antisipasi perlambatan di Australia, China daratan, Jepang, dan Selandia Baru. Sedangkan India dan Indonesia diprediksi stabil pada tingkat yang serupa dengan tahun 2023.
Seiring dengan meredanya dampak ekonomi akibat pandemi pada tahun 2024, konsumen di Asia Pasifik diharapkan akan mengalokasikan lebih banyak anggaran dari pendapatan mereka untuk pengeluaran opsional, seperti perjalanan dan hiburan. Ini merupakan perubahan dari periode tahun 2022-2023, di mana inflasi tinggi menyebabkan barang-barang esensial seperti bahan makanan dan bahan bakar menghabiskan sebagian besar dari anggaran rumah tangga, sehingga hanya sedikit anggaran yang tersisa untuk hal-hal yang diinginkan atau pengeluaran ekstra.
Baca Juga: Sri Mulyani Tegaskan Pertumbuhan Ekonomi 5,2% di 2024 Sudah Perhitungkan Risiko Global
Pada 2024, pengeluaran konsumen di Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan sekitar 5,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. "Tahun 2024 akan menjadi masa di mana konsumen akan menyesuaikan kembali pengeluaran mereka. Data menunjukkan bahwa masyarakat tetap antusias untuk melakukan perjalanan dan makan di restoran, meskipun tingkatnya berbeda-beda di setiap negara," ungkap Chief Economist, Asia Pacific, Mastercard David Mann, dalam siaran pers yang dikutip Sabtu (16/12/2023).
Mengindikasikan perubahan dalam permintaan, lanjutnya, konsumen di seluruh kawasan Asia Pasifik diprediksi akan mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk pembelian barang di 2024 dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menandai awal dari siklus baru yang akan mengembalikan pertumbuhan belanja barang ke level sebelum masa pandemi, mengubah tren yang terjadi pada 2022-2023 ketika konsumen lebih memprioritaskan layanan seperti makan di luar dan perjalanan sebagai respons terhadap pembukaan ekonomi pascapandemi.
Pada 2024, peningkatan permintaan barang seperti barang-barang rumah tangga dan pakaian juga diperkirakan akan membangkitkan sektor manufaktur Asia Pasifik, yang memiliki peran krusial dalam perekonomian global. Pergeseran ini akan mendorong keselarasan kinerja antara sektor manufaktur dan jasa di wilayah Asia Pasifik yang sebelumnya cenderung berlawanan arah karena sektor manufaktur mengalami perlambatan dan sektor jasa bertumbuh pesat pada 2023.
Laporan itu memproyeksikan pertumbuhan yang bervariasi di seluruh wilayah. Di satu sisi, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Taiwan, dan Korea Selatan akan mengalami peningkatan, sementara ada antisipasi perlambatan di Australia, China daratan, Jepang, dan Selandia Baru. Sedangkan India dan Indonesia diprediksi stabil pada tingkat yang serupa dengan tahun 2023.
Seiring dengan meredanya dampak ekonomi akibat pandemi pada tahun 2024, konsumen di Asia Pasifik diharapkan akan mengalokasikan lebih banyak anggaran dari pendapatan mereka untuk pengeluaran opsional, seperti perjalanan dan hiburan. Ini merupakan perubahan dari periode tahun 2022-2023, di mana inflasi tinggi menyebabkan barang-barang esensial seperti bahan makanan dan bahan bakar menghabiskan sebagian besar dari anggaran rumah tangga, sehingga hanya sedikit anggaran yang tersisa untuk hal-hal yang diinginkan atau pengeluaran ekstra.
Baca Juga: Sri Mulyani Tegaskan Pertumbuhan Ekonomi 5,2% di 2024 Sudah Perhitungkan Risiko Global
Pada 2024, pengeluaran konsumen di Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan sekitar 5,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. "Tahun 2024 akan menjadi masa di mana konsumen akan menyesuaikan kembali pengeluaran mereka. Data menunjukkan bahwa masyarakat tetap antusias untuk melakukan perjalanan dan makan di restoran, meskipun tingkatnya berbeda-beda di setiap negara," ungkap Chief Economist, Asia Pacific, Mastercard David Mann, dalam siaran pers yang dikutip Sabtu (16/12/2023).
Mengindikasikan perubahan dalam permintaan, lanjutnya, konsumen di seluruh kawasan Asia Pasifik diprediksi akan mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk pembelian barang di 2024 dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menandai awal dari siklus baru yang akan mengembalikan pertumbuhan belanja barang ke level sebelum masa pandemi, mengubah tren yang terjadi pada 2022-2023 ketika konsumen lebih memprioritaskan layanan seperti makan di luar dan perjalanan sebagai respons terhadap pembukaan ekonomi pascapandemi.
Pada 2024, peningkatan permintaan barang seperti barang-barang rumah tangga dan pakaian juga diperkirakan akan membangkitkan sektor manufaktur Asia Pasifik, yang memiliki peran krusial dalam perekonomian global. Pergeseran ini akan mendorong keselarasan kinerja antara sektor manufaktur dan jasa di wilayah Asia Pasifik yang sebelumnya cenderung berlawanan arah karena sektor manufaktur mengalami perlambatan dan sektor jasa bertumbuh pesat pada 2023.
Lihat Juga :