alexametrics

KKP Akan Wujudkan Kampung Bioflok di Manokwari

loading...
KKP Akan Wujudkan Kampung Bioflok di Manokwari
KKP mendorong perekonomian masyarakat di Provinsi Papua Barat dengan mengenalkan kegiatan usaha di bidang perikanan budidaya. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus konsisten untuk mendorong perekonomian masyarakat di Provinsi Papua Barat dengan mengenalkan kegiatan usaha di bidang perikanan budidaya.

Pada 2018, KKP akan memprioritaskan dukungan yang langsung menyentuh ekonomi masyarakat. Yakni, dukungan usaha budidaya lele bioflok, pengembangan Unit Pembenihan Rakyat (UPR), dukungan induk dan benih, sarana dan prasarana produksi budidaya dan pakan ikan mandiri.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan hal tersebut seusai meresmikan UPR ikan lele di kampung Makwam, Distrik Masni, Manokwari.

Disela-sela mendampingi kunjungan kerja komisi IV DPR RI di Manokwari, Slamet juga menyempatkan meninjau secara langsung bantuan budidaya lele bioflok tahun 2017 di distrik Prafi. Slamet mengapresiasi keberhasilan budidaya lele bioflok yang dikelola masyarakat yakni Pokdakan Sumber Rejeki.

Ketua Pokdakan Sumber Rejeki, Sunarto mengatakan bahwa usaha lele bioflok yang dikenalkan KKP tahun 2017 merupakan pertama kalinya di Papua. Dia optimistis usaha ini sangat prospektif mengingat permintaan ikan lele terus meningkat dengan harga yang bagus.

Dia menyebut saat ini harga ikan lele berada pada kisaran harga Rp35.000-Rp40.000 per kg. "Seminggu lagi kami akan panen perdana dengan perkiraan hasil produksi minimal 1,5 ton untuk 6 kolam. Kami harapkan nanti pasar bisa terpenuhi. Saat ini permintaan pembeli yang sering datang ke sini mencapai 270 kg per minggu. Ini memacu kita untuk terus naikan produksi," ungkapnya.

Di samping itu, menurut Sunarto, masyarakat Manokwari sangat beragam yang hampir 50% merupakan masyarakat transmigran sejak 1979 dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Kondisi ini memiliki keunikan tersendiri terkait dengan pilihan jenis ikan. "Kalau orang Sumatera cenderung suka ikan Nila, Sementara orang Jawa lebih suka ikan lele. Kondisi ini menguntungkan pasar karena punya segmen sendiri sendiri-sendiri," tutrunya.

Menindaklanjuti keberhasilan lele bioflok di distrik Prafi, KKP akan mendorong pengembangan budidaya lele berbasis kawasan. Untuk itu, menurutnya, KKP akan menginisiasi konsep ini di Kabupaten Manokwari yakni dengan membangun model "Kampung Bioflok".

Slamet optimis model pengembangan seperti ini sangat pas di kembangkan di Manokwari. Potensi yang besar, dan kesukaan masyarakat terhadap ikan tawar menjadi alasan tepat untuk bangun model ini.

Model ini juga diharapkan akan menjadi faktor pengungkit ekonomi masyarakat dan tentunya sangat penting dalam menyokong ketahanan pangan masyarakat melalui peningkatan konsumsi ikan. Di mana, saat ini tingkat konsumsi ikan masyarakat Papua Barat mencapai 46 kg per kapita/tahun.

"Tahap awal akan kita bangun kampung bioflok ini di distrik Prafi yakni di SP4 (Satuan Pemukiman 4) dan diharapkan menjadi embrio bagi model sejenis di kawasan lain," jelas Slamet.

Menurutnya, mengembangkan model ini akan mempercepat perkembangan budidaya. Jadi, nanti pembeli akan lebih mudah mendapatkan hasil produksi secara kontinue dan sesuai kebutuhan.

"Intinya kampung bioflok akan menjadi satu kawasan yang terintegrasi dan diharapkan nantinya akan memicu pergerakan ekonomi lokal. Apalagi dengan pengenalan lele bioflok turut mendongkrak citra ikan lele dan mulai disukai masyarakat," jelasnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak