Ekonomi Babak Belur Dihantam Perang, Regulator Sekuritas Israel Rayu Investor AS

Jum'at, 12 Januari 2024 - 08:57 WIB
loading...
Ekonomi Babak Belur...
New Chairman pengawas sekuritas Israel, bakal menuju Amerika Serikat pada minggu depan untuk merayu investor AS di tengah dampak perang Israel dengan kelompok militan Palestina Hamas yang sudah berlangsung 3 bulan. Foto/Ilustrasi
A A A
TEL AVIV - New Chairman pengawas sekuritas Israel , Seffy Zinger bakal menuju Amerika Serikat pada minggu depan untuk merayu investor AS dan menyakinkan mereka bahwa sektor bisnis di Negara Yahudi tersebut berjalan normal. Diketahui perang Israel dengan kelompok militan Palestina Hamas telah berlangsung dalam tiga bulan terakhir.

Baca Juga: Mengintip Kondisi Sektor Vital Ekonomi Israel di Tengah Perang

Tahun lalu menjadi sangat menantang bagi pasar saham Israel, dimana indeks utama Tel Aviv 125 turun 15% menyusul serangan yang terjadi pada 7 Oktober terhadap Israel oleh kelompok militan Palestina yang menyebabkan perang di Gaza.

Indeks kemudian rebound untuk mengakhiri tahun 2023 lewat kenaikan 4%, akan tetapi masih tertinggal secara signifikan dari indeks AS. Baca Juga: Sektor Vital Ekonomi Israel Kehilangan Tenaga Usai 300.000 Warga Jadi Pasukan Cadangan

Zinger, yang mengambil alih nakhoda Otoritas Sekuritas Israel (ISA) mengatakan, dia melihat adanya prospek pemulihan ekonomi tahun ini. "Kami ingin memberi tahu dunia bahwa ekonomi Israel berfungsi selama perang dan bursa saham tidak tutup, bahkan untuk satu hari," katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

"Kami percaya ada peluang di Israel bahwa setelah perang, ekonomi akan tumbuh. Hal yang sama terjadi saat perang di masa lalu atau situasi militer di Israel dalam dua dekade terakhir. Dan sektor teknologi dalam kondisi sangat kuat," bebernya.

Ekonomi Israel diperkirakan akan mendapat dorongan, saat militer secara bertahap melepaskan lebih dari 300.000 warga Israel yang direkrut sebagai tentara cadangan. Wajib miliet membuat adanya kekurangan tenaga kerja, dimana banyak di antaranya berasal dari sektor teknologi tinggi yang memainkan peran penting.

Mengatur kecerdasan buatan (AI) dan meningkatkan kepatuhan dan penegakan hukum perusahaan juga merupakan fokus utama, ungkap Zinger. Ia mencatat bahwa undang-undang sekuritas Israel sudah berusia puluhan tahun dan tidak mencakum AI.

"Bagaimana kita bisa menggunakan teknologi AI untuk tujuan kita dan di sisi lain adalah sisi pasar dan apa cara terbaik untuk mengaturnya. Apa risiko yang kita hadapi?," katanya.

Pada saat yang sama, ISA ingin memperketat kemampuan penegakannya dengan memastikan pelaporan yang lebih baik oleh perusahaan dan membuat hukuman lebih cepat dan lebih kuat. "Kami merasa ada ruang untuk lebih merampingkan proses penegakan hukum," kata Zinger.

"Apa yang kami pikirkan sebagai regulator adalah bagaimana menggabungkan teknologi baru ke dalam pengawasan pasar dan penegakan hukum di pasar modal, mengingat teknologi AI baru yang tersedia bagi kami," ungkapnya.

Perjalanan Zinger ke AS, yang direncanakan sebelum perang dengan Hamas pecah, menjadi yang pertama bagi seorang pemimpin ISA sejak sebelum pandemi COVID. Zinger akan bertemu dengan mitra Securities and Exchange (SEC) AS dan investor di New York dan Washington.

Ia bakal menyampaikan presentasi di konferensi Needham pada 18 Januari, mendatang yakni sebuah acara tahunan yang mempertemukan investor, pakar industri dan pengusaha untuk membahas tren dan peluang terbaru di sektor teknologi.

Zinger, yang berusaha untuk lebih menyelaraskan peraturan pasar lokal dengan standar global, mengatakan dia ingin memikat lebih banyak investor dan perusahaan asing ke Bursa Efek Tel Aviv.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Israel Lepas Ketergantungan...
Israel Lepas Ketergantungan Dolar AS, Menerima Rp5.193 Triliun Sejak PD II
Barat Kalah Berani?...
Barat Kalah Berani? Kapal-kapal Asia Siap Terobos Selat Hormuz Lebih Dulu
Dalih Iran Soal Penutupan...
Dalih Iran Soal Penutupan Ketat di Selat Hormuz, Stabilitas Harga Energi Masih Jauh
Rupiah Masih Rapuh,...
Rupiah Masih Rapuh, Hari Ini Sentuh Level Rp17.104 per USD
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon Selatan Meski Ada Kesepakatan AS-Iran
Posisi Iran Jadi Pemenang,...
Posisi Iran Jadi Pemenang, Israel Tetap Berstatus Pecundang
Zionis Israel Ratapi...
Zionis Israel Ratapi Kesepakatan Damai AS-Iran: Kami Ditinggalkan Sendirian!
Rekomendasi
Ronaldo: Sudah Saatnya...
Ronaldo: Sudah Saatnya Dunia Mengakui Lionel Messi yang Terhebat
Rencana Aksi Lagi di...
Rencana Aksi Lagi di Bundaran HI, Ketua BEM UI Ingin Dobrak Kemacetan Mobilitas Sosial
Bintang Piala Dunia...
Bintang Piala Dunia 2026 Elye Wahi Diduga Terlibat Pengaturan Skor
Berita Terkini
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved