alexametrics

Reliance Beri Rumus Menghitung Harga Saham Murah atau Mahal

loading...
Reliance Beri Rumus Menghitung Harga Saham Murah atau Mahal
Reliance Sekuritas Indonesia (RELI) menerangkan, cermati fundamental perusahaan yang melakukan IPO dengan cara melihat Price Earning Ratio (PER) dan Price Book Value (PBV). Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Reliance Sekuritas Indonesia (RELI) menerangkan, cermati fundamental perusahaan yang melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dengan cara melihat Price Earning Ratio (PER) dan Price Book Value (PBV). Dengan itu, maka akan terlihat apakah saham tersebut masih murah atau mahal.

(Baca Juga: Berburu Saham IPO di Tengah Gejolak Pasar Modal)

Direktur Utama Reliance Sekuritas Anita mengatakan, semakin tinggi PER dan PBV suatu perusahaan membuat semakin mahal harga sahamnya. Adapun, rumus PER adalah perbandingan harga saham dengan earning per share (EPS).

Rumus EPS sendiri didapatkan dari perbandingan laba bersih dalam setahun dengan jumlah saham yang beredar di pasar. "Biasanya besaran EPS sudah ada pada laporan keuangan perusahaan," ujarnya di Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Sementara, Anita menyampaikan, PBV fokus pada ekuitas perusahaan. Rumus PBV adalah perbandingan antara harga saham dengan book value. "Rumus book value adalah perbandingan antara jumlah ekuitas dengan jumlah saham yang beredar," katanya.

Dia menambahkan, selain itu cermati juga tujuan IPO di prospektus dan perhatikan penggunaan dana hasil IPO. Apakah digunakan untuk membayar utang, melakukan restrukturisasi permodalan atau untuk ekspansi usaha.

Jika hasil IPO digunakan untuk melakukan ekspansi usaha, memberi sinyal positif karena dana tersebut untuk meraih profit baru, sehingga investor dapat menikmati untung. Jika porsi untuk membayar utang cukup besar, gerak perusahaan jadi tak gesit.

Kemudian, investor yang ingin mengambil saham perusahaan IPO juga harus memperhatikan saat proses book building, mengalami oversubscribe atau undersubscribe. Potensi kenaikan harga saham akan lebih besar jika terjadi oversubscribe.

"Membeli saham sama dengan memiliki sebuah perusahaan. Karena itu, investor harus memilih perusahaan mana yang memiliki kinerja bagus sehingga berpeluang memperoleh keuntungan pada masa depan," pungkasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak