70% Market Dikuasai Produk Impor, Industri Tekstil RI di Ujung Tanduk
Jum'at, 01 Maret 2024 - 19:28 WIB
loading...
A
A
A
“Kalau kita melihat di market itu untuk momentum Lebaran barang impor menguasai sekitar 60-70 persen market. Makanya sekarang di industri tekstil ini mereka tahu bahwa momentum ini, tekstil saat ini, itu kondisi paling buruk dari 20 tahun terakhir,” paparnya.
Memburuknya industri tekstil dan padat karya di Tanah Air, lanjut Redma, lantaran inti permasalahannya belum disentuh oleh pemerintah. Pokok persoalan berupa dominasi atau membanjirnya produk impor di pasaran.
Menurutnya, dua bulan pertama tahun ini kinerja industri tekstil masih sama dengan dua tahun sebelumnya. Di mana, sejumlah perusahaan tidak membukukan pertumbuhan yang baik, justru mencatatkan kinerja negatif.
“Kalau 2023 kemarin juga pertumbuhannya negatif, ekspor negatif, penjualan di dalam negeri juga negatif. Sebetulnya, konsumsinya sih tidak negatif, konsumsinya tetap ada pertumbuhan, kami perkirakan pertumbuhan dibandingkan 2022 konsumsi lebih dari 3-4 persen, pertumbuhan konsumsi ya,” beber dia.
“Tapi kita tahu kan konsumsi itu tumbuhnya tidak terlalu besar. Tapi pertumbuhan konsumsi yang tidak banyak itu diisi oleh barang-barang impor yang cukup besar, jadi penjualan domestik kita kan turun tajam,” jelasnya.
Memburuknya industri tekstil dan padat karya di Tanah Air, lanjut Redma, lantaran inti permasalahannya belum disentuh oleh pemerintah. Pokok persoalan berupa dominasi atau membanjirnya produk impor di pasaran.
Menurutnya, dua bulan pertama tahun ini kinerja industri tekstil masih sama dengan dua tahun sebelumnya. Di mana, sejumlah perusahaan tidak membukukan pertumbuhan yang baik, justru mencatatkan kinerja negatif.
“Kalau 2023 kemarin juga pertumbuhannya negatif, ekspor negatif, penjualan di dalam negeri juga negatif. Sebetulnya, konsumsinya sih tidak negatif, konsumsinya tetap ada pertumbuhan, kami perkirakan pertumbuhan dibandingkan 2022 konsumsi lebih dari 3-4 persen, pertumbuhan konsumsi ya,” beber dia.
“Tapi kita tahu kan konsumsi itu tumbuhnya tidak terlalu besar. Tapi pertumbuhan konsumsi yang tidak banyak itu diisi oleh barang-barang impor yang cukup besar, jadi penjualan domestik kita kan turun tajam,” jelasnya.
(akr)
Lihat Juga :