alexametrics

Resto Indonesia Mendunia

loading...
Resto Indonesia Mendunia
(YUSWOHADY. Managing Partner Inventure www.yuswohady.com)
A+ A-
Hari Kamis-Jumat (22–23 November) lalu adalah hari bersejarah bagi Indonesia karena hari itu untuk pertama kalinya kita mengumpulkan sekitar 100 pemilik resto Indonesia di luar negeri (”resto diaspora”) di ajang Wonderful Indonesia Gastronomy Forum (WIGF): Diaspora Restaurant yang dibesut Kementerian Pariwisata.

Mereka datang ke Jakarta untuk meneguhkan tekad melakukan diplomasi kuliner agar masakan-masakan hebat Indonesia bisa mendunia dan diterima konsumen global.

Seperti halnya pizza (Italia), tom yam (Thailand), atau sushi (Jepang), kita ingin masakan-masakan hebat kita seperti soto, rendang, sate, nasi goreng, dan gado-gado bisa diterima masyarakat dunia.

Emosional

Bertemu dengan para pemilik resto diaspora sungguh memicu muatan emosional. Bayangkan, selama ini mereka berjuang sendiri di negeri orang, negara lalai. Begitu negara hadir mengulurkan tangan, mereka begitu trenyuh dan tak henti-hentinya berterima kasih.

Jangan dikira mengelola resto di negeri orang itu gampang. Mereka betul-betul menjadi CEO aliaschief of everything officer. Karena semua urusan mulai dari manajemen resto, keuangan, jualan, masak atau bahkan cuci piring mereka kerjakan sendiri.

Semua dilakukan secara oneman show karena memang biaya tenaga kerja di negaranegara Eropa atau di Amerika mahal minta ampun. Tak sedikit resto Indonesia di luar negeri yang tutup karena pemiliknya tak kuat lagi mengelolanya.

Tak jarang pula resto-resto Indonesia itu berpindah pemilik dan beralih fungsi menjadi resto Thailand atau resto Jepang karena mendirikan dan mengelola resto Thailand dan Jepang jauh lebih mudah.

Kenapa? Karena negara mereka hadir sebagai ”dewa penolong” membantu pengadaan bumbu dan bahan baku, memberikansoft loan pendirian resto, dan aktif membantu promosi.

Lalu bagaimana membantu resto diaspora untuk mengembangkan diri sekaligus menyebarkan masakan Indonesia ke seluruh dunia? Caranya bisa melalui dua jalur, yaitu business to government(B2G) dan business to business (B2B).

B2G

Jalur B2G dilakukan melalui campur tangan pemerintah secara aktif dalam melancarkan bisnis resto diaspora. Domain peran pemerintah di sini mencakup: kebijakan dan regulasi, orkestrasi Indonesia Inc (kolaborasi unsur pentahelix: government, business, academician, media, komunitas), lobi ke negara/pemerintah lokal hingga aktivasi promosi secara langsung.

Di salah satu sesi WIGF ada cerita menarik yang disampaikan pemilik resto di Shanghai. Awalnya ia menggunakan santan Kara asal Indonesia untuk masakannya, tetapi sejak setahun terakhir ia menggunakan produk santan Thailand.

Pasalnya harga santan Kara di Shanghai dua kali lipat dari nharga santan Thailand. Kenapa begitu? Karena produk santan Thailand menikmati bea masuk impor yang rendah berkat lobi-lobi dan kebijakan strategis Pemerintah Thailand.

Mengenai peran negara dalam membantu resto diaspora, kita wajib belajar dari Thailand. Melalui program Kitchen of the World sejak 1990-an, Thailand aktif mendorong resto diaspora Thailand sehingga kini mampu ”menjajah” dunia dengan jumlah puluhan ribu Thai resto di seluruh dunia.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak